Sekitarbandung.com – Di masa penjajahan, profesi dokter kerap dianggap sebagai simbol kemewahan dan kekayaan elite, namun hal tersebut tidak berlaku bagi Moewardi.
Ia merupakan dokter spesialis THT yang memilih jalan sunyi dengan mengobati rakyat miskin dan gelandangan tanpa memungut biaya sepeser pun.
Tidak hanya berhati mulia di ruang praktik, Dr. Moewardi juga dikenal sebagai pejuang garis keras karena menjabat sebagai Ketua Barisan Pelopor.
Saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dibacakan, ia berada di barisan terdepan, siap menjadi tameng hidup untuk melindungi Soekarno-Mohammad Hatta dari ancaman tentara Jepang.
Pada tahun 1948, situasi politik memanas akibat Pemberontakan PKI Madiun 1948 yang terjadi di Madiun dan Surakarta (Solo), sehingga banyak pejabat dan tokoh penting memilih menyelamatkan diri.
Rekan-rekannya pun memohon agar Dr. Moewardi ikut mengungsi karena namanya masuk dalam target utama operasi penculikan.
Baca Juga: Tidak Pernah Angkat Senapan, tetapi Pria Berjas Ini Sukses Kalahkan Belanda di Markas PBB
Namun, ia menolak untuk pergi karena merasa sebagai dokter tidak pantas meninggalkan rumah sakit serta pasien-pasiennya yang sedang berjuang antara hidup dan mati di tengah konflik berdarah.
Ia tetap bertahan di Surakarta dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, meski pada akhirnya ketulusannya justru dibalas dengan pengkhianatan yang keji.
Pada tanggal 13 September 1948, saat sedang menjalankan tugas mulianya melakukan operasi medis di Rumah Sakit Jebres, sekelompok pemberontak bersenjata mendobrak masuk.
Pahlawan medis yang telah menyelamatkan banyak nyawa rakyat miskin tersebut kemudian diseret keluar, diculik, disiksa, dan dihabisi secara tragis oleh sesama bangsa.
Hingga kini, jasad Dr. Moewardi tidak pernah ditemukan sehingga keluarganya tidak memiliki makam untuk diziarahi.
Ia seakan menghilang dalam kelamnya sejarah pemberontakan dan meninggalkan duka mendalam bagi republik yang sangat dicintainya.
Namanya kini diabadikan menjadi RSUD Dr. Moewardi di Surakarta sebagai bentuk penghormatan atas jasanya yang luar biasa.
Baca Juga: Tolak Mobil dan Harta dari Penjajah, Ismail Marzuki Wafat Tragis di Rumah Kontrakan

