Sekitarbandung.com – Pada akhir abad ke-19, Belanda frustrasi bukan main. Aceh War (1873-1904) adalah mimpi buruk terbesar mereka. Senjata canggih dan jenderal-jenderal terbaik rontok dihantam semangat jihad rakyat Serambi Mekah.
Kas negara terkuras habis, nyaris bangkrut untuk kedua kalinya. Belanda menyadari bahwa Aceh tidak bisa ditaklukkan hanya dengan peluru.
Jika peluru meriam gagal, maka menggunakan tipu daya akal. Pemerintah kolonial mengutus seorang ahli keislaman lulusan Eropa, yaitu Christiaan Snouck Hurgronje.
Demi memuluskan misinya, ia menyusup ke Makkah, mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar, dan berpura-pura memeluk agama Islam untuk mempelajari kelemahan para jemaah haji asal Aceh secara diam-diam.
Tugas kotor dan sangat berisiko ini tentu tidak murah. Sebagai Penasihat Urusan Pribumi, Snouck digaji sangat fantastis. Bayarannya mencapai 700 Gulden per bulan.
Jika dikonversi dengan harga emas saat ini, maka gaji sang intel setara dengan Rp1,17 miliar setiap bulannya. Belanda rela merogoh kocek sedalam itu, karena Snouck adalah “kartu as” untuk memenangkan perang.
Berbekal ilmunya, Snouck tiba di tanah Aceh. Ia membaur ke desa-desa, mendekati para tokoh masyarakat. Dari sanalah matanya terbuka melihat satu rahasia mematikan:
Baca Juga: Pernah Nyaris Bangkrut Total, Belanda Mendadak Kaya Raya Berkat Satu Kebijakan Kejam di Jawa
“Kekuatan Aceh bukan terletak pada Sultan atau bangsawan, melainkan pada kharisma para Ulama yang tak henti mengobarkan api Perang Sabil.”
Laporan intelijen Snouck mengubah total strategi militer Belanda. Ia memberikan satu nasihat kejam kepada Jenderal J. B. van Heutsz:
“Abaikan Sultannya, rangkul bangsawannya (dengan jabatan/uang), lalu buru dan bantai habis para Ulamanya tanpa ampun!”
Saran mengerikan inilah yang melahirkan pasukan elite anti-gerilya Marsose.
Taktik pecah belah dan bumi hangus itu terbukti efektif. Pertahanan pejuang Aceh perlahan mulai goyah, ribuan nyawa melayang.
Gaji 700 Gulden yang diterima Snouck setiap bulannya, dibayar oleh genangan darah rakyat Aceh. Sebuah investasi paling menguntungkan bagi Kerajaan Belanda, namun menjadi tragedi paling menyayat hati bagi Nusantara.
Snouck Hurgronje pulang ke Eropa dan dielu-elukan sebagai pahlawan, meninggalkan luka sejarah yang abadi di tanah kita. Kisah ini menjadi tamparan keras bagi bangsa Indonesia:
“Benteng pertahanan sekuat dan sekokoh apa pun, sering kali hancur bukan karena serangan peluru dari luar, melainkan karena infiltrasi dan pengkhianatan dari dalam.”
Baca Juga: Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri

