Sekitarbandung.com – Pada awal abad ke-19, Belanda berada di ambang kehancuran karena kas negara mereka benar-benar kosong melompong alias terkuras habis.
Alasannya yaitu untuk membiayai Perang Jawa dan meredam pemberontakan di Belgia. Utang menumpuk, ancaman kebangkrutan ada di depan mata. Mereka membutuhkan keajaiban untuk menyelamatkan negara.
Ide Gila van den Bosch
Pada awal tahun 1830, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch datang membawa sebuah ide gila yang sangat kejam. Namanya yaitu Cultuurstelsel atau Tanam Paksa.
Ibarat sebuah sistem “pencucian uang” berskala raksasa, kebijakan ini menyulap penderitaan manusia menjadi kepingan gulden yang mengalir deras ke Eropa.
Aturannya jelas dan mencekik. Petani Jawa dipaksa menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, nila, dan teh di atas tanah mereka sendiri. Hasil panennya wajib diserahkan kepada Belanda.
Penyerahan tersebut dengan harga yang sudah dimanipulasi sekecil mungkin. Waktu dan tenaga rakyat diperas habis-habisan hingga tidak sempat lagi menanam padi untuk keluarga sendiri.
Neraka dan Kerajaan Belanda
Bagi petani Jawa, ini adalah neraka. Tetapi bagi Kerajaan Belanda, ini adalah masa keemasan. Tanam Paksa menghasilkan Batig Slot (keuntungan bersih) yang jumlahnya tidak masuk akal, yaitu ratusan juta gulden.
Uang tersebut mengalir secara deras untuk melunasi semua utang negara, bahkan menyisakan surplus yang sangat luar biasa melimpah.
Baca Juga: Tak Sudi Kotanya Dikuasai Belanda, 200.000 Warga Bandung Bakar Rumah Mereka Sendiri
Uang-uang Berdarah
Lalu ke mana perginya uang-uang berdarah itu? Keuntungan dari Tanam Paksa digunakan untuk membangun kemewahan infrastruktur di Belanda.
Mulai dari jaringan kereta api nasional yang megah, hingga bangunan-bangunan mewah di pusat kota Amsterdam. Semua kemegahan itu sejatinya disubsidi oleh keringat Nusantara.
Rakyat Jawa Dapat Kematian
Lalu apa yang didapatkan oleh rakyat Jawa? Kematian. Karena dipaksa menanam komoditas ekspor, sawah-sawah terbengkalai. Gagal panen terjadi di mana-mana.
Puncaknya yaitu pada tahun 1840-an di Demak dan Grobogan. Bencana kelaparan ekstrem merajalela. Ratusan ribu rakyat tewas bergelimpangan di jalanan. Banyak yang mati kelaparan saat sedang bekerja di kebun Belanda.
Sistem ini Dihapus
Sejarah mencatat dengan tinta darah. Sistem ini akhirnya dihapus setelah menuai kecaman hebat, salah satunya yaitu melalui novel Max Havelaar karya Multatuli.
Namun, kerugian yang dialami bangsa ini tidak pernah terganti. Setiap kali kita melihat bangunan tua yang megah di Belanda, ingatlah satu hal, bahwa fondasi bangunan itu dibangun di atas air mata dan nyawa nenek moyang kita.
Baca Juga: Suaminya Dieksekusi Penjajah, Cut Meutia Justru Ambil Alih Pasukan dan Habisi Tentara Belanda

