sekitarbandungcom – Gempa Bandung tercatat terjadi sebanyak 118 kali dalam rentang lebih dari satu bulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat rangkaian aktivitas tersebut di Kabupaten Bandung dan sekitarnya sejak 11 Agustus hingga 17 September 2026 pukul 08.00 WIB.
Catatan ini menjadi perhatian karena sebagian gempa dirasakan warga, sementara lokasi sumbernya belum seluruhnya terpetakan dalam peta sesar yang ada. BMKG menyampaikan hasil pemantauan tersebut sebagai bagian dari kajian terhadap aktivitas kegempaan di wilayah Bandung.
Gempa Bandung 118 Kali Terdeteksi BMKG
BMKG mencatat 118 aktivitas gempa bumi dengan magnitudo antara M1,0 hingga M3,4 selama periode pengamatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 kejadian dirasakan oleh masyarakat di Pangalengan, Talegong, Cisewu, dan wilayah sekitarnya.
Gempa yang dirasakan warga memiliki intensitas II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala tersebut, getaran dapat dirasakan oleh sebagian orang dan menimbulkan sensasi guncangan di dalam bangunan, tergantung kondisi setempat.
BMKG menjelaskan rangkaian gempa tersebut tergolong gempa dangkal. Pusat-pusat gempa juga memperlihatkan pola kelurusan dengan arah barat daya–timur laut.
Posisi pusat gempa berada sekitar 5–8 kilometer di sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang serta di sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana. Kendati demikian, BMKG tidak langsung menyimpulkan bahwa rangkaian tersebut berasal dari salah satu segmen Sesar Garsela yang telah dipetakan.
Baca juga:Uang Palsu Bandung, 2 Kakak Adik Cetak Rp300 Juta Pakai Kertas Kue
Gempa Bandung Berasal dari Area yang Belum Terpetakan
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen), sebaran pusat gempa tersebut tidak berada pada zona Sesar Garsela Segmen Kendang, Sesar Garsela Segmen Kencana, maupun Sesar Cicalengka.
BMKG menyebut sebaran aktivitas berada di area yang belum terpetakan. Karena itu, kajian lebih mendalam masih diperlukan untuk mengetahui struktur sumber gempa secara lebih pasti.
BMKG mengaitkan rangkaian tersebut secara tektonik dengan aktivitas sesar lokal. Namun, struktur sumber pastinya belum dapat ditetapkan. Dengan kondisi itu, informasi mengenai adanya sesar baru sebaiknya tidak disimpulkan sebelum kajian ilmiah selesai.
Pemantauan aktivitas tersebut didukung jaringan sensor seismik BMKG. Di Jawa Barat, BMKG memiliki 35 sensor yang mampu mendeteksi serta mencatat gempa mikro atau gempa dengan magnitudo kecil.
Baca juga:SIM Keliling Bandung 18 September 2026, 2 Lokasi dan Jadwal Lengkap
Data tersebut penting untuk membantu melihat pola aktivitas kegempaan secara lebih rinci. Rekaman dari berbagai sensor dapat digunakan sebagai bahan analisis untuk memahami lokasi, kedalaman, dan pola persebaran kejadian gempa.
Dalam konteks gempa swarm, akademisi Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menjelaskan bahwa rangkaian gempa tidak otomatis menjadi pertanda akan terjadi gempa besar. Menurut penjelasan yang diberitakan ANTARA, sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap.
Karena itu, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan tidak mengambil kesimpulan berdasarkan kabar yang belum terverifikasi. Informasi mengenai jumlah kejadian, magnitudo, lokasi, maupun perkembangan aktivitas dapat berubah seiring pembaruan hasil pemantauan.
Rangkaian 118 gempa di Bandung menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan di wilayah tersebut. BMKG masih melakukan pengkajian terhadap sumber aktivitas yang berada di area belum terpetakan, sehingga hasil penelitian lanjutan diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai karakteristik kegempaan setempat.
Hasil pemantauan juga membantu membedakan antara kejadian yang terdeteksi instrumen dan kejadian yang benar-benar dirasakan penduduk. Perbedaan itu penting karena tidak setiap gempa kecil menimbulkan getaran yang dirasakan manusia. Pencatatan instrumental tetap diperlukan untuk mengetahui apakah aktivitas berlangsung secara berkelompok atau mengikuti pola tertentu.
BMKG melalui pengamatan seismik dapat terus memperbarui informasi ketika terjadi gempa baru. Dalam kasus Bandung, data tersebut menjadi dasar untuk menilai hubungan antarkejadian dan memperkirakan karakter sumber berdasarkan bukti seismologi yang tersedia. Kajian semacam ini membutuhkan data yang cukup agar kesimpulan mengenai sumber gempa tidak terburu-buru.
Bagi masyarakat, informasi resmi menjadi rujukan utama selama rangkaian gempa masih dipantau. Warga dapat memperhatikan pembaruan BMKG terkait kejadian yang dirasakan, sekaligus memastikan lingkungan rumah dan tempat kerja memiliki langkah kesiapsiagaan yang sesuai.
Langkah sederhana membantu kesiapsiagaan menghadapi guncangan.

