Sektor Ritel Bandung Jadi Penggerak Pengentasan Kemiskinan, Farhan Dorong Penyerapan Tenaga Kerja

sekitarbandungcom – Sektor Ritel Bandung diharapkan mengambil peran lebih besar dalam membuka kesempatan kerja dan memperluas peluang usaha. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong pelaku

nathanael gihon

sekitarbandungcom – Sektor Ritel Bandung diharapkan mengambil peran lebih besar dalam membuka kesempatan kerja dan memperluas peluang usaha. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong pelaku ritel agar menjadi bagian dari upaya pengentasan kemiskinan melalui penyerapan tenaga kerja yang lebih luas dan berkelanjutan.

Harapan tersebut disampaikan Farhan dalam National Kick-Off Hari Ritel Nasional 2026 di Amanda Supermarket, Cihampelas Walk, Bandung, Senin, 2 November 2026.

Sektor Ritel Bandung Didorong Buka Kesempatan Kerja

Farhan menyampaikan bahwa kontribusi penciptaan lapangan kerja dan lapangan usaha dalam strategi penanganan kemiskinan Kota Bandung masih sebesar 5 persen.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena pertumbuhan ekonomi perlu disertai kesempatan kerja yang dapat dijangkau masyarakat.

Sektor ritel dinilai dapat berkontribusi melalui kebutuhan tenaga kerja pada kegiatan operasional, distribusi, pelayanan, hingga rantai pasok.

Dalam konteks itu, penguatan sektor ritel diharapkan membuka akses pekerjaan formal dan berkelanjutan.

Data Badan Pusat Statistik Kota Bandung menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka pada Agustus 2025 mencapai 7,22 persen. Angka tersebut turun dibandingkan 7,40 persen pada Agustus 2024.

Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja tercatat 1.275,7 ribu orang, dengan 706,3 ribu orang atau 55,36 persen bekerja pada kegiatan formal.

Data tersebut menggambarkan kondisi ketenagakerjaan pada 2025, bukan angka terbaru untuk 2026.

Baca juga: Bencana Coblong Bandung, Farhan Siapkan Alternatif Penanganan untuk Warga Terdampak

Sektor Ritel Bandung dan Strategi Pertumbuhan Ekonomi

Pemkot Bandung juga mengaitkan pengembangan ritel dengan strategi Tourism, Trade, and Investment atau TTI. Pendekatan ini diarahkan untuk mendorong kunjungan wisatawan, meningkatkan transaksi perdagangan, serta menarik investasi ke daerah.

Farhan menyampaikan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung pada semester pertama 2026 mencapai 5,8 persen. Angka tersebut masih berada di bawah capaian 7,2 persen pada 2019.

Perubahan struktur ekonomi juga menjadi pertimbangan, karena sektor pariwisata kini menjadi salah satu penggerak utama setelah peran industri mengalami pergeseran.

Melalui strategi TTI, aktivitas wisata diharapkan memberi dampak terhadap perdagangan dan kegiatan usaha.

Baca juga: Pengawasan MBG Bandung Diperketat, Pemkot Periksa Perizinan dan Keamanan Pangan SPPG

Produk Lokal dan UMKM Perlu Mendapat Akses Pasar

Penguatan ritel juga berkaitan dengan kesempatan produk lokal memasuki jaringan perdagangan modern. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa hampir 80 persen produk lokal telah masuk ke ritel modern.

Peluang kemitraan dapat membantu UMKM memperluas jangkauan konsumen. Kurasi produk, peningkatan mutu, kesinambungan pasokan, dan pemenuhan persyaratan usaha menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar produk lokal mampu bersaing serta bertahan di jaringan ritel.

Pengembangan sektor ritel di Kota Bandung juga memiliki landasan pengaturan melalui Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 2 Tahun 2024 tentang pengembangan, penataan, dan pembinaan pusat perbelanjaan serta toko swalayan.

Aturan tersebut mencakup sejumlah aspek, termasuk kemitraan, pemasokan barang, tenaga kerja, pembinaan pasar rakyat, dan pengawasan.

Target Penyerapan Tenaga Kerja Jadi Perhatian

Peluang tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebutuhan tenaga kerja yang jelas, proses rekrutmen yang terbuka, dan pelatihan sesuai kebutuhan usaha.

Dengan begitu, masyarakat yang sedang mencari pekerjaan dapat memperoleh akses terhadap lowongan, sementara pelaku ritel mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan.

Pemerintah daerah dapat mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan pencari kerja melalui informasi pasar kerja dan kerja sama pelatihan.

Di sisi lain, pertumbuhan ritel perlu berjalan berdampingan dengan keberadaan pasar rakyat dan pedagang kecil. Pembinaan serta kemitraan dapat membuka ruang bagi pemasok lokal untuk masuk ke rantai perdagangan, tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha kecil.

Keseimbangan tersebut penting agar manfaat kegiatan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar, tetapi juga menjangkau pelaku usaha di lingkungan permukiman.

Pemerintah Kota Bandung menargetkan tingkat pengangguran terbuka turun hingga di bawah 4 persen pada akhir 2029.

Karena itu, sektor Ritel Bandung diharapkan menjadi salah satu unsur pendukung penciptaan kerja, penguatan UMKM, dan pemerataan kesempatan ekonomi.

Dorongan Farhan menempatkan ritel sebagai bagian strategi ekonomi yang lebih luas. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memastikan pertumbuhan kegiatan perdagangan memberi manfaat nyata bagi pekerja dan pelaku usaha kecil, sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kota Bandung.

Sumber: bandung.go.id

Related Post

Tinggalkan komentar