Bencana Coblong Bandung, Farhan Siapkan Alternatif Penanganan untuk Warga Terdampak

sekitarbandungcom – Bencana Coblong Bandung mendorong Pemerintah Kota Bandung menyiapkan alternatif penanganan setelah Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meninjau lokasi banjir dan longsor di Kecamatan

nathanael gihon

sekitarbandungcom – Bencana Coblong Bandung mendorong Pemerintah Kota Bandung menyiapkan alternatif penanganan setelah Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meninjau lokasi banjir dan longsor di Kecamatan Coblong.

Peninjauan dilakukan pada Minggu, 1 November 2026, mulai pukul 04.00 hingga 06.30 WIB. Dua titik yang dikunjungi berada di Kelurahan Cipaganti dan Kelurahan Sekeloa.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi kerusakan sekaligus memastikan kebutuhan penanganan di lapangan. Di Cipaganti, kirmir Sungai Cikalintu di Jalan Siliwangi Dalam IV, RT 09/RW 01, dilaporkan jebol. Sementara itu, longsor di Sekeloa menyebabkan akses jalan warga tertutup material tanah.

Bencana Coblong Bandung, Kirmir Cikalintu Kembali Jebol

Kirmir Sungai Cikalintu menjadi salah satu perhatian dalam peninjauan tersebut. Struktur penahan sungai itu sebelumnya telah diperkuat menggunakan tembok dengan ketebalan 25 sentimeter. Namun, konstruksi tersebut tetap mengalami kerusakan ketika aliran banjir bandang dari kawasan Lembang datang dengan deras.

Kondisi itu mendorong Pemkot Bandung mempertimbangkan pendekatan lain untuk mengurangi dampak aliran air dari wilayah hulu. Normalisasi sungai dinilai tidak lagi menjadi solusi utama untuk menangani persoalan di lokasi tersebut. Karena itu, pemerintah kota masih mencari alternatif penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Pembahasan alternatif tersebut perlu memperhatikan karakter aliran sungai dan kondisi kawasan di sekitarnya. Informasi yang tersedia belum menyebutkan bentuk akhir pekerjaan, jadwal pelaksanaan, ataupun anggaran yang akan disiapkan.

Dengan demikian, rencana tersebut masih berada pada tahap pencarian dan pembahasan, bukan proyek yang sudah dipastikan mulai dikerjakan.

Peninjauan juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memahami dampak kerusakan terhadap lingkungan permukiman. Kondisi kirmir yang kembali jebol menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pilihan penanganan sebelumnya, sekaligus koordinasi dengan pihak terkait sebelum menentukan langkah berikutnya.

Baca juga: Pengawasan MBG Bandung Diperketat, Pemkot Periksa Perizinan dan Keamanan Pangan SPPG

Bencana Coblong Bandung, Longsor Sekeloa Ganggu Akses Warga

Titik kedua yang ditinjau berada di Kelurahan Sekeloa. Longsor di kawasan tersebut menutup akses jalan warga menuju RT 04 dan RT 05. Material longsoran telah dibersihkan, tetapi kondisi tebing masih membutuhkan penanganan lanjutan agar risiko kejadian serupa dapat dikurangi.

Farhan berharap pemilik lahan dapat berkomunikasi dengan warga untuk membahas langkah yang memungkinkan. Beberapa opsi yang disebutkan dalam peninjauan antara lain pemangkasan tebing atau pembangunan kirmir sebagai penguatan. Opsi tersebut masih perlu dibicarakan bersama, sehingga belum dapat disebut sebagai keputusan final pemerintah.

Koordinasi menjadi penting karena penanganan tebing berkaitan dengan lahan dan akses yang digunakan masyarakat. Kesepakatan antara pemilik lahan, warga, dan pemerintah diperlukan sebelum pekerjaan lanjutan ditentukan. Pemeriksaan kondisi tebing juga dibutuhkan untuk mempertimbangkan bentuk penanganan yang sesuai.

Baca juga: Banjir dan Longsor Bandung Raya, 34 Rumah Terdampak dan Warga Mengungsi

Pemkot Siapkan Penanganan Lanjutan di Coblong

Pemkot Bandung perlu menindaklanjuti hasil peninjauan melalui koordinasi perangkat daerah dan pihak yang berkaitan dengan lokasi terdampak.

Penanganan di Cipaganti berfokus pada pencarian alternatif untuk mengurangi dampak aliran banjir dari hulu. Sementara di Sekeloa, perhatian diarahkan pada kondisi tebing dan pemulihan akses warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung juga memiliki peran dalam koordinasi penanganan kebencanaan, termasuk pendataan dan pemeriksaan kondisi di lapangan.

Dalam penanganan setelah kejadian, pembersihan material serta pemeriksaan rumah dan lingkungan terdampak menjadi bagian penting untuk mengetahui kebutuhan warga.

Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai dan tebing perlu tetap memperhatikan perubahan kondisi lingkungan, terutama ketika hujan deras terjadi.

Jika menemukan tanda yang berpotensi membahayakan, warga dapat menyampaikan laporan kepada aparat setempat agar dapat ditindaklanjuti.

Bencana Coblong Bandung memperlihatkan bahwa penanganan banjir dan longsor memerlukan pendekatan sesuai karakter setiap lokasi.

Kerusakan kirmir Cikalintu membutuhkan evaluasi terhadap pengendalian aliran dari hulu, sedangkan longsor Sekeloa memerlukan pembahasan teknis dan koordinasi terkait tebing. Pemkot masih menyiapkan alternatif, sehingga perkembangan keputusan dan pelaksanaannya perlu terus dipantau.

Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi risiko bagi warga serta menjaga akses lingkungan tetap berfungsi. Pemerintah dan masyarakat perlu berkoordinasi agar penanganan yang dipilih sesuai kondisi lapangan dan kebutuhan kawasan terdampak.

Pemantauan berkala diperlukan untuk menilai perubahan kondisi setelah pembersihan awal selesai dilakukan secara menyeluruh.

Sumber: bandung.go.id

Related Post

Tinggalkan komentar