Sekitarbandung.com – Kamu pernah mendengar nama Mohammad Natsir? Mungkin di buku sejarah sekolah namanya jarang disebut.
Padahal, tanpa beliau, mungkin hari ini kita tidak bernama “Republik Indonesia”, melainkan masih terpecah-pecah menjadi negara bagian boneka Belanda, yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS).
Pada tahun 1950, Indonesia sedang kritis. Kita terpecah belah menjadi 16 negara bagian (Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, dll.) buatan Belanda.
Persatuan di ujung tanduk. Perang saudara bisa meletus kapan saja antarnegara bagian itu. Di saat genting inilah, Natsir langsung maju ke podium.
Natsir tidak maju dengan senjata. Ia maju dengan gagasan. Ia mencetuskan “Mosi Integral” dengan lobi-lobi politik yang jenius dan santun.
Akhirnya ia berhasil membujuk semua raja-raja kecil dan pemimpin negara bagian untuk membubarkan diri secara sukarela. Tanpa pertumpahan darah setetes pun, Indonesia kembali bersatu menjadi NKRI.
Atas jasanya yang luar biasa tersebut, Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri pertama RI. Tetapi, apa balasan negara di kemudian hari?
Baca Juga: Sisi Gelap Masa Orde Lama, Jutaan Rakyat Menderita karena Ambisi Perang Para Penguasa
Karena perbedaan pandangan politik dengan Presiden Soekarno (dan keterlibatannya di PRRI demi mengoreksi pusat), sang pemersatu bangsa ini justru dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan di Malang dan Jakarta (1962-1966).
Keluar dari penjara pada masa Orde Baru, nasibnya tak membaik. Ia dicekal dan dikucilkan secara politik. Hidupnya sangat miskin untuk ukuran mantan Perdana Menteri.
Ada kisah masyhur: suatu hari Natsir mau pergi salat Idul Fitri. Ia memakai jas kebesarannya.
Tetapi orang-orang menangis melihatnya. Ternyata kerah jas itu sudah sobek dan ditambal dengan kain lain karena beliau tak mampu membeli jas baru.
Pernah ada tamu asing yang kaget melihat mobil Natsir yang butut (De Soto kusam). Sang tamu berniat membelikan mobil baru (Toyota Crown). Tetapi Natsir menolak halus:
“Mobil ini cukup bagi saya, yang penting masih bisa jalan.” Ia menolak “disuap” kemewahan, meski hidupnya pas-pasan.
Mohammad Natsir wafat pada tahun 1993 dalam kesunyian politik, tetapi keramaian doa. Seorang ulama dan negarawan yang “menampik dunia”.
Ia yang memulangkan kita ke rumah besar bernama NKRI, tetapi ia sendiri hidup menumpang di rumah saudaranya. Terima kasih, Pak Natsir. Maafkan bangsa ini.

