Sekitarbandung.com – Sebagai Ketua BPUPKI, peran Dr. Radjiman Wedyodiningrat sangat besar dalam membidani lahirnya republik ini. Namun, pengabdiannya tidak berhenti pada tahun 1945.
Ketika Indonesia mulai menata sistem pemerintahannya, ia tetap turut berkontribusi dan dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), bahkan memimpin sidang pleno pertama DPR RI pada tahun 1950.
Keistimewaan Sosoknya
Di sinilah letak keistimewaan sosoknya. Dengan jabatan parlemen setinggi itu, ia berhak memperoleh berbagai fasilitas dan kenyamanan hidup di ibu kota Jakarta.
Namun, Radjiman mengambil pilihan hidup yang membuat banyak orang tertegun. Ia memilih untuk tetap menetap di rumah sederhananya di Desa Dirgo, Walikukun, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Kembali Jadi Dokter Rakyat
Di sela-sela kesibukannya mengurus negara dan parlemen, Radjiman kembali pada panggilan jiwa yang telah melekat dalam dirinya, yaitu sebagai dokter rakyat.
Di usianya yang telah senja, ia menghabiskan hari-harinya di Ngawi untuk merawat dan mengobati rakyat miskin yang saat itu masih terdampak berbagai wabah penyakit pascaperang.
Ia melayani warga desa dengan penuh dedikasi, seolah menanggalkan seluruh atribut kebesarannya sebagai “Bapak Bangsa”.
Baca Juga: Kisah Pilu Sang Perancang Garuda Pancasila, Dituduh Terlibat dalam Kudeta
Pengabdian hingga Akhir Hayat
Pengabdian tulus tersebut berlangsung hingga ia mengembuskan napas terakhir pada tanggal 20 September 1952, dalam usia 73 tahun.
Presiden Soekarno pun hadir secara langsung untuk memberikan penghormatan terakhir dalam prosesi pemakaman kenegaraannya.
Radjiman berpulang dengan status sebagai anggota aktif DPR RI dan meninggalkan warisan keteladanan yang sangat luar biasa.
Kisah Radjiman merupakan pengingat penting dalam sejarah politik Indonesia. Ia membuktikan bahwa kekuasaan tinggi dan jabatan bergengsi di pemerintahan bukanlah alasan untuk berhenti melayani masyarakat kecil.
Ia adalah contoh nyata seorang pemimpin yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”, memberikan segalanya untuk negara, namun tetap menjejakkan kakinya di tanah bersama rakyat biasa.
Baca Juga: Misteri Hilangnya Ribuan Pemuda, Dijanjikan Jadi Pahlawan tetapi Berakhir Tragis

