Indonesia Luncurkan Sistem Peringatan Dini Gempa via TV & HP, Ini Cara Kerjanya

Jakarta – Dalam sebuah langkah signifikan untuk memperkuat mitigasi bencana nasional, Indonesia bersiap meluncurkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang akan menjangkau jutaan warga

Redaksi Sekitar Bandung

Jakarta – Dalam sebuah langkah signifikan untuk memperkuat mitigasi bencana nasional, Indonesia bersiap meluncurkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami yang akan menjangkau jutaan warga secara langsung melalui siaran televisi digital dan ponsel. Mengadopsi model yang terinspirasi dari Jepang, inisiatif peringatan dini gempa ini bertujuan memangkas waktu penyebaran informasi krusial untuk menyelamatkan nyawa di negara yang berada di Cincin Api Pasifik.

Proyek kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini dijadwalkan akan beroperasi penuh pada kuartal ketiga 2024.

“Hal tersebut membutuhkan infrastruktur yang bisa segera menyampaikan informasi penting kepada masyarakat,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menekankan bahwa kecepatan dan jangkauan informasi adalah kunci dalam respons bencana yang efektif.

Baca juga – Anak SD Jadi Korban Bully dan Penganiayaan, KPAD Minta Polisi Segera Bertindak!

Bagaimana Sistem Peringatan Dini Gempa Ini Bekerja?

 

Saat BMKG mendeteksi gempa signifikan yang berpotensi menimbulkan dampak luas atau tsunami, peringatan dini gempa akan disiarkan secara otomatis melalui dua kanal utama:

  • Televisi Digital

Siaran yang sedang berlangsung akan terinterupsi oleh notifikasi visual. Peringatan ini menggunakan sistem kode warna yang intuitif untuk tingkat ancaman: Hijau (Waspada), Kuning (Siaga), dan Merah (Awas). Peringatan akan relevan secara geografis, menargetkan wilayah terdampak berdasarkan data kode pos yang dimasukkan pengguna saat instalasi Set-Top Box (STB).

  • Telepon Seluler

Alih-alih menggunakan SMS yang rentan macet saat terjadi lonjakan trafik, sistem ini akan memakai teknologi cell broadcast. Metode ini memungkinkan pengiriman pesan massal ke semua perangkat di area geografis tertentu tanpa terbebani kepadatan jaringan. Pesan akan muncul di layar ponsel disertai alarm suara yang keras dan baru akan berhenti jika dimatikan secara manual oleh pengguna.

Belajar dari Tragedi: Optimalisasi Peringatan Dini Gempa di Indonesia

Inisiatif ini merupakan respons langsung atas pelajaran pahit dari bencana masa lalu, terutama gempa dan tsunami Palu pada 2018, di mana kegagalan komunikasi menjadi salah satu faktor yang memperburuk jumlah korban. Dengan mengintegrasikan seluruh lembaga terkait dalam satu sistem, pemerintah berupaya memastikan informasi peringatan dini gempa dari BMKG sampai ke masyarakat tanpa penundaan fatal.

Sistem ini menggunakan platform Disaster-related Public Information System (DPIS), sebuah teknologi hibah dari Jepang yang telah terbukti efektif. Di Jepang, sistem serupa yang dikenal sebagai J-Alert tidak hanya menyebarkan peringatan ke publik, tetapi juga terintegrasi dengan infrastruktur kritis, seperti menghentikan kereta cepat secara otomatis atau mematikan jalur gas industri.

Meskipun Indonesia mengadopsi teknologinya, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa sistem peringatan dini gempa ini pada tahap awal akan memberikan notifikasi pasca-gempa. Klaim waktu “kurang dari 3 menit” merujuk pada standar analisis BMKG untuk menentukan potensi tsunami setelah gempa terjadi. Hal itu berbeda dengan sistem peringatan pra-guncangan di Jepang yang bisa memberi notifikasi beberapa detik sebelum guncangan kuat tiba.

Tantangan Implementasi Peringatan Dini Gempa: Teknologi dan Kesiapan Publik

Para ahli sepakat bahwa keberhasilan sistem peringatan dini gempa ini tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dan komitmen berkelanjutan. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, telah berulang kali menyuarakan keprihatinannya terhadap kebijakan mitigasi yang kerap terhenti saat terjadi pergantian kepemimpinan daerah, sebuah fenomena yang ia sebut “masuk laci”.

“Semua unsur terlibat… Tapi ketika kepemimpinan di daerah tersebut berganti, semua kebijakan itu ‘masuk laci’. Tiga tahun kemudian, tsunami terjadi. Dan mereka tidak siap,” ungkap Dwikorita, menyoroti pentingnya konsistensi politik dalam mitigasi bencana.

Selain itu, edukasi publik menjadi kunci. Sebuah alarm tidak akan efektif jika masyarakat tidak tahu cara meresponsnya. Pakar gempa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah Marliyani, menekankan pentingnya sikap proaktif. “Jangan menunggu bencana terjadi baru reaktif, tetapi siapkan diri selalu,” ujarnya.

Peluncuran sistem peringatan dini gempa ini adalah sebuah lompatan besar bagi Indonesia. Namun, hal tersebut hanyalah langkah awal. Keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada pemeliharaan infrastruktur, komitmen politik yang tak tergoyahkan, serta edukasi yang masif untuk membangun budaya sadar bencana di seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga – Disangka Tolak Program Provinsi, Bupati Bandung Akhirnya Buka Suara!

Related Post

Tinggalkan komentar