sekitarbandung.com – Yayasan Sosial Studi Malela menyoroti rendahnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada 2024. Tahun itu, IPG KBB tercatat sebesar 81,02, terendah di antara kabupaten/kota di Jawa Barat dan jauh di bawah rata-rata provinsi sebesar 91,04.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan mendasar antara laki-laki dan perempuan di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Rendahnya IPG KBB tak hanya mencerminkan persoalan statistik, melainkan juga menandakan adanya ketimpangan struktural dan kultural yang perlu ditangani komprehensif.
Hasil kajian Yayasan Sosial Studi Malela menunjukkan, narasi pembangunan tingkat daerah masih berfokus pada isu perlindungan perempuan dari kekerasan. Sementara aspek pemberdayaan dan partisipasi perempuan dalam pembangunan belum menjadi arus utama.
Menurut Dini Anjani, Koordinator Kajian Gender Yayasan Sosial Studi Malela penting untuk membingkai ulang narasi publik dari “perempuan sebagai korban” menjadi “perempuan sebagai aktor pembangunan”. Narasi baru itu menempatkan perempuan bukan hanya sebagai penerima perlindungan, melainkan sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi yang berperan aktif dalam pengambilan keputusan publik.
Baca juga : Bupati Bandung Barat Minta Warga Laporkan ASN Nakal
“Kami ingin mengajak semua pihak untuk melihat isu gender tidak sebatas pada penanganan kekerasan, tetapi juga sebagai agenda strategis pemberdayaan. Meningkatkan IPG berarti membangun sistem yang memungkinkan perempuan berdaya, mandiri, dan menjadi bagian penting dari proses pembangunan daerah,” ujar Dini Anjani dalam keterangan tertulis Yayasan Sosial Studi Malela kepada “PR”, Minggu 12 Oktober 2025.
Yayasan Sosial Studi Malela menilai peningkatan IPG harus disertai dengan kebijakan afirmatif, pendidikan kepemimpinan perempuan, dan perluasan akses terhadap modal dan pendidikan tinggi.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

