Kontroversi Teknologi Sepatu Lari yang Bisa Buat Pelari Jadi Lebih Ringan dan Cepat

Sekitarbandung.com – Kamu pernah memperhatikan podium maraton dunia? Pemenangnya nyaris 100 persen menggunakan sepatu yang sama, yaitu sol tebal dengan pelat karbon. Lalu, itu fungsinya

Dicky Wicaksono

Kontroversi Teknologi Sepatu Lari yang Bisa Buat Pelari Jadi Lebih Ringan dan Cepat
Kontroversi Teknologi Sepatu Lari yang Bisa Buat Pelari Jadi Lebih Ringan dan Cepat

Sekitarbandung.com – Kamu pernah memperhatikan podium maraton dunia? Pemenangnya nyaris 100 persen menggunakan sepatu yang sama, yaitu sol tebal dengan pelat karbon. Lalu, itu fungsinya untuk apa?

Dulu, sepatu lari itu hanya untuk melindungi kaki dari aspal. Lalu, Nike mengubah sepatu menjadi mesin pendorong dengan menempatkan pelat karbon yang berfungsi sebagai pegas.

Pegas inilah yang bisa menghemat energi pelari hingga 4 persen. Di dunia maraton, selisih angka itu sangat berpengaruh dan bisa mengubah pelari kelas menengah menjadi pemecah rekor.

Kontroversi Mulai Muncul

Saat Eliud Kipchoge memecahkan rekor lari maraton di bawah 2 jam menggunakan prototipe Nike dengan 3 pelat karbon, kritikus berteriak:

“Kipchoge tidak menang karena otot, tetapi karena pegas di kakinya!”

Kasus ini pun memanas. Pemenang lari sebelumnya hingga ikut terseret. World Athletics akhirnya turun tangan membuat peraturan resmi, yaitu:

Baca Juga: Dulu China Dihina karena Penjiplak, Kini Dunia Kelabakan Mengejar Teknologinya yang Dianggap sebagai Pencipta

  1. Ketebalan sol maksimal 40 mm.
  2. Jumlah pelat karbon hanya satu.
  3. Status sepatu harus sudah dijual secara umum.

Rahasia di Baliknya

Di dalam sol tebal tersebut terdapat pelat karbon kaku yang dijepit oleh busa empuk. Fungsinya yaitu sebagai pengungkit.

Saat kaki mendarat, pelat ini menyimpan energi dan memberikan dorongan balik. Pelari tidak hanya melangkah, tetapi merasa mantul di atas aspal.

Ibarat bensin mobil, kita bisa lari lebih jauh dan kencang dengan bahan bakar yang sama. Kecepatan lari otomatis bertambah tanpa membuat jantung seperti akan copot.

Tetapi ingat, teknologi ini akan maksimal jika larinya juga kencang. Jika larinya masih lambat, maka pelat karbon akan terasa keras.

Di sisi lain, sepatu ini jangan digunakan sembarangan, karena jika teknik lari belum benar atau otot core lemah, maka sepatu ini justru bisa menjadi penyebab cedera serius.

Suka atau tidak, teknologi ini sudah menjadi standar baru. Rekor dunia yang terus pecah menjadi bukti manusia semakin pintar dalam memanfaatkan alat untuk menembus batas fisik.

Baca Juga: Diduga Imbas Peraturan 16 Tahun, Warganet Keluhkan Akun TikTok yang Tiba-tiba Kena Banned

Related Post

Tinggalkan komentar