Sekitarbandung.com – Coba lihat sekelilingmu. Di ruang kelas, di kantor, di koin, hingga di paspor, lambang Garuda Pancasila selalu ada. Namun, pernahkah kamu bertanya di buku sejarah sekolah:
Siapa sebenarnya tokoh jenius yang menggambar lambang semegah ini? Kenalkan, ia merupakan Sultan Hamid II, Sultan dari Pontianak.
Pemerintah mengadakan sayembara untuk membuat lambang negara pada tahun 1950. Dari sekian banyak tokoh hebat, desain karya Sultan Hamid II terpilih mengalahkan desain milik Mohammad Yamin.
Sketsa awalnya berbentuk burung Rajawali Garuda, yang kemudian disempurnakan lagi bersama Presiden Soekarno hingga menjadi Garuda Pancasila yang kita kenal sekarang.
Seharusnya, ia dicatat dengan tinta emas sebagai pahlawan bangsa, tetapi sejarah berkata lain. Pada tahun yang sama saat Garuda Pancasila diresmikan (1950), Sultan Hamid II justru terjerat skandal makar terbesar di awal kemerdekaan.
Ia terbukti bersekongkol dengan pimpinan militer Belanda, Raymond Westerling, dalam peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil).
Sultan Hamid II, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Negara, terbukti merencanakan kudeta dan berniat menyerang Sidang Kabinet RIS di Jakarta.
Meski niat pembunuhan itu tidak pernah terlaksana, Sultan Hamid II tetap diseret ke Mahkamah Militer dan divonis selama 10 tahun penjara.
Sang pembuat lambang negara kini harus menatap karyanya dari balik jeruji besi yang dingin.
Buntut dari kasus politik ini sangat kejam bagi warisannya. Selama masa Orde Baru hingga awal Reformasi, nama Sultan Hamid II seolah sengaja “dihilangkan” dari buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.
Jutaan anak Indonesia dibiarkan tidak tahu sang perancang lambang negaranya.
Baru pada era modern ini, jerih payahnya mulai digali dan diakui kembali oleh para sejarawan. Terlepas dari dosa politik masa lalunya, sejarah tetaplah sejarah.
Garuda Pancasila tidak akan pernah mengepakkan sayapnya tanpa goresan tangan dari sang Sultan Pontianak.
Sejarah memang tidak pernah sederhana. Sultan Hamid II merupakan sosok yang memberikan Indonesia identitas visual paling agung, namun ia juga harus menebus dosa politik dalam jeruji besi.
Garuda Pancasila kini tetap mengepak gagah, melampaui segala perdebatan tentang pembuatnya, karena pada akhirnya sebuah karya besar akan selalu lebih besar dari sekadar nama di baliknya.
Baca Juga: Berkuasa 32 Tahun di Indonesia, Namun Sepanjang Hidupnya Hanya Setia pada Siti Hartinah

