Penambahan Rombel Bandung: Solusi Akses Pendidikan yang Hadapi Tantangan

sekitarbandung.com – Penambahan Rombel Bandung menjadi kebijakan baru yang menuai perhatian publik. Langkah ini diambil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk memberi peluang lebih luas

Aracely Azwa

Penambahan Rombel Bandung

sekitarbandung.comPenambahan Rombel Bandung menjadi kebijakan baru yang menuai perhatian publik. Langkah ini diambil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk memberi peluang lebih luas kepada siswa berisiko putus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan. Namun, kebijakan ini juga memunculkan tantangan, mulai dari lonjakan jumlah siswa, keterbatasan fasilitas, hingga masalah lahan sekolah.

Baca Juga: Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah Bandung Barat Demi Fokus Belajar

Jumlah Siswa Melonjak di Beberapa Sekolah

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Bandung, Kardiana, menyebut jumlah peserta didik baru meningkat signifikan, dari 396 menjadi 485 orang. Dampaknya, setiap kelas kini diisi hingga 44 siswa, jauh di atas rekomendasi pemerintah pusat yang menetapkan maksimal 36 siswa per kelas.

“Kalau dipaksakan, kasihan anak-anak karena belajar jadi berdesakan dan kurang nyaman,” ujar Kardiana, Kamis (7/8/2025).

Situasi serupa terjadi di SMAN 7 Bandung yang rata-rata menampung 39 siswa per kelas, dan SMAN 20 Bandung yang mencapai 42 siswa per kelas.

Tantangan Fasilitas dan Kenyamanan

Wakasek Kesiswaan SMAN 20, Pipih Nurhidayanti, mengatakan kondisi ini membutuhkan usaha ekstra dari para guru. Selain itu, muncul permintaan siswa untuk fasilitas tambahan seperti kipas angin atau AC, demi mengurangi panas di kelas yang padat.

“Kalau ruang kelas lebih penuh, suhunya jadi panas. Anak-anak pun mengusulkan penambahan kipas atau AC agar belajar lebih nyaman,” ungkap Pipih.

Di SMAN 1 Bandung, lonjakan siswa sempat menyebabkan keterbatasan meja belajar, sehingga ada siswa yang hanya mendapat kursi di awal masuk. Beruntung, bantuan meja dan kursi segera dikirim oleh pemerintah.

Sementara di SMAN 7, kekurangan kursi diatasi dengan meminjam dari laboratorium. “Kami pakai kursi dari lab untuk sementara karena belum ada bantuan fasilitas baru,” kata Retno, guru di SMAN 7 Bandung.

Keterbatasan Lahan Hambat Penambahan Ruang

Kardiana menegaskan, penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) sulit dilakukan karena keterbatasan lahan. “Kalau tidak ada lahan baru, solusi yang memungkinkan adalah menambah lantai di bangunan yang ada,” jelasnya.

Hal yang sama disampaikan Retno dari SMAN 7, yang menegaskan bahwa membangun ruang baru hampir mustahil tanpa lahan tambahan.

Harapan untuk Evaluasi Kebijakan

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para pendidik memahami tujuan kebijakan ini. Mereka berharap pemerintah provinsi melakukan evaluasi menyeluruh dan mempertimbangkan kondisi riil sekolah sebelum membuat kebijakan serupa di masa depan.

“Tujuannya bagus, yaitu menyelamatkan anak-anak yang berisiko putus sekolah. Tapi jangan lupa, sekolah swasta juga terdampak karena kekurangan murid. Jadi, kalau mau menyelamatkan, semua pihak harus diperhatikan,” ujar Otong Karma, Bagian Sarana dan Prasarana SMAN 7 Bandung.

Akses Pendidikan yang Lebih Luas

Kebijakan ini sejalan dengan visi pemerintah untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan di Jawa Barat. Menurut data Dinas Pendidikan Jawa Barat (disdik.jabarprov.go.id), penambahan rombel diharapkan mampu mengakomodasi siswa dari berbagai latar belakang, terutama mereka yang kesulitan mengakses sekolah favorit.

Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar