Berstatus sebagai Raja yang Kaya Raya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX Rela Kuras Harta Keraton Demi Negara yang Nyaris Bangkrut

Sekitarbandung.com – Akhir tahun 1948, kas negara kosong melompong dan pemerintahan lumpuh total. Di titik kritis inilah seorang raja maju sebagai penyelamat, yakni Sri Sultan

Dicky Wicaksono

Berstatus sebagai Raja yang Kaya Raya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX Rela Kuras Harta Keraton Demi Negara yang Nyaris Bangkrut
Berstatus sebagai Raja yang Kaya Raya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX Rela Kuras Harta Keraton Demi Negara yang Nyaris Bangkrut

Sekitarbandung.com – Akhir tahun 1948, kas negara kosong melompong dan pemerintahan lumpuh total. Di titik kritis inilah seorang raja maju sebagai penyelamat, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Raja Kesultanan Yogyakarta.

Saat itu Indonesia nyaris tamat. Belanda melancarkan Agresi Militer II, menguasai ibu kota Yogyakarta, dan menawan Presiden Ir. Soekarno serta wakilnya, Mohammad Hatta.

Belanda menawari Sri Sultan Hamengkubuwono IX jabatan tinggi dan kekayaan asalkan bersedia bekerja sama dan membelot dari Republik Indonesia. Jawabannya? Sultan menolak secara mentah-mentah!

Sri Sultan Hamengkubuwono IX justru mengunci gerbang Keraton rapat-rapat. Ia mengubah istananya menjadi tempat persembunyian rahasia bagi para pejuang gerilya Republik.

Belanda pun marah besar, tetapi mereka tidak berani mendobrak masuk karena takut memicu pemberontakan jutaan rakyat Jawa yang sangat menghormati rajanya.

Karena kas negara kosong, para pegawai pemerintahan, polisi, hingga tentara Republik tidak mendapatkan gaji. Semuanya kelaparan. Melihat hal itu, Sultan HB IX mengambil tindakan penyelamatan.

Ia membuka brankas Keraton dan menyumbangkan sebesar enam juta gulden harta pribadinya (setara triliunan rupiah di masa kini) untuk mendanai seluruh operasional Republik Indonesia.

Bacq Juga: Meski Wajahnya Jarang Dikenal, tetapi Racikan Bumbu Mi Indomie Mampu Selamatkan Jutaan Perut

Tidak hanya menyumbangkan harta, Sultan HB IX juga menjadi otak di balik Serangan Umum 1 Maret 1949 bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Letkol Soeharto.

Mereka merancang serangan kejutan yang sukses merebut kembali Jogja selama enam jam. Dunia internasional akhirnya mengetahui bahwa TNI dan Republik Indonesia belum mati.

Di balik statusnya sebagai Raja Jawa dan pahlawan besar, ia dikenal luar biasa rendah hati. Suatu hari pada tahun 1946, seorang ibu pedagang pasar di Jogja mencegat mobil jip untuk menumpang membawa karung beras.

Sang sopir jip dengan sabar menaikkan dan menurunkan beras tersebut. Ibu itu bahkan sempat marah-marah karena meminta bantuan, tanpa mengetahui bahwa sopir jip yang dimarahinya adalah rajanya sendiri, Sultan HB IX.

Sultan HB IX mengajarkan bahwa nasionalisme bukan sekadar kata-kata, melainkan pengorbanan nyata atas harta, tahta, bahkan nyawa.

“Saya memang mengenyam pendidikan Barat, tapi saya tetaplah orang Jawa.”

Ia membuktikan bahwa kekuasaan bukan untuk memperkaya diri, melainkan sebagai alat untuk menyelamatkan negeri.

Baca Juga: Malas Bersihkan Meja Kerjanya, Ilmuwan Ini Tanpa Sengaja Temukan Obat Penyelamat Dunia

Related Post

Tinggalkan komentar