sekitarbandung.com – TPA Sarimukti kembali menjadi sorotan publik setelah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat menilai perubahan sistem pembuangan sampah di Bandung Raya belum menyentuh akar masalah sebenarnya.
Perubahan sistem dari ritase ke tonase yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dianggap hanya memperpanjang umur TPA Sarimukti tanpa menyelesaikan persoalan sampah di tingkat hulu.
Manajer Divisi Pendidikan dan Koordinator Tim Advokasi Sampah Walhi Jabar, M. Jefry Rohman, mengatakan bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara.
“Ini hanya strategi untuk memperpanjang usia TPA Sarimukti. Tapi kalau tidak ada pengelolaan sampah dari sumbernya, persoalan ini hanya akan berputar di situ-situ saja,” ujar Jefry, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga: The Papandayan Jazz Fest 2025 Rayakan Satu Dekade Jazz Bandung dalam Keberagaman
Pengelolaan Sampah di Hulu Harus Jadi Prioritas
Menurut Jefry, solusi utama penanganan sampah seharusnya dilakukan di tingkat hulu, yakni di rumah tangga dan kawasan produksi. Ia menilai paradigma pemerintah masih fokus pada hilir, yakni pembuangan ke TPA, padahal upaya pencegahan di sumber sampah jauh lebih efektif.
“Kalau di hulu tidak ditangani, TPA manapun akan penuh. Kita seharusnya mulai dari edukasi masyarakat agar memilah sampah dan mengurangi penggunaannya,” katanya.
Selain itu, Jefry menyebut pentingnya peran bank sampah, daur ulang, dan inovasi teknologi seperti biodigester serta komposter. Semua metode tersebut dinilai mampu menekan volume sampah hingga 60 persen sebelum masuk ke TPA.
Perubahan Sistem Dinilai Tidak Efektif
Perubahan sistem tonase membuat jumlah sampah yang bisa dibuang ke TPA Sarimukti menjadi terbatas. Hal ini berpotensi memunculkan penumpukan di wilayah perkotaan seperti Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat.
“Tujuan utamanya memang memperpanjang umur TPA, tapi dampaknya adalah sampah di kota jadi menumpuk. Ini hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” ujar Jefry.
Sebagai perbandingan, beberapa kota seperti Surabaya dan Semarang telah berhasil menekan volume sampah hingga 40% melalui sistem pemilahan di rumah tangga dan insentif bagi pengelola bank sampah. Bandung Raya diharapkan bisa meniru langkah serupa.
Butuh Komitmen Politik dan Kolaborasi Lintas Sektor
Jefry menegaskan bahwa perbaikan sistem pengelolaan sampah membutuhkan komitmen politik yang kuat dari pemerintah dan DPRD. Tanpa kebijakan yang berpihak pada solusi jangka panjang, upaya perbaikan hanya bersifat sementara.
“Pemerintah daerah harus punya kemauan politik. Tanpa itu, TPA Sarimukti akan terus jadi bom waktu,” ujarnya.
Selain dari pemerintah, masyarakat juga diimbau aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).
Masa Depan Pengelolaan Sampah Bandung Raya
Saat ini, Pemprov Jabar tengah menyiapkan pembangunan TPPAS Legok Nangka sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi beban TPA Sarimukti. Namun proyek ini masih dalam tahap pengembangan dan belum beroperasi penuh.
Untuk sementara, pemerintah diharapkan memperkuat sistem pengumpulan dan pemilahan sampah berbasis masyarakat agar krisis serupa tidak terus terulang.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang upaya pengelolaan lingkungan di Jawa Barat, kunjungi situs resmi Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

