sekitarbandung.com – Pemerintah Kota Bandung mencatat, saat ini akses sanitasi aman baru mencapai 21,45%, dengan 18,41% warga masih belum memiliki akses sanitasi layak. Sampai 2030, Pemkot Bandung menargetkan 43,34% rumah tangga memiliki akses sanitasi aman.
Hal itu dikatakan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam Kick Off Meeting Dialog Sanitasi di Pasirkaliki, Selasa 24 Juni 2025. Dialog dalam rangka program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP) 2025.
Farhan menilai, sanitasi aman merupakan fondasi penting menuju Kota Bandung yang layak huni, sehat, dan inklusif. “Sanitasi bukan hanya soal infrastruktur, tapi tentang peradaban dan kualitas hidup. Ini menentukan arah pembangunan kota yang sehat dan adil,” katanya.
Baca juga : Bandung Barat Sukses 100% Bentuk Koperasi Desa Merah Putih
Menurut Farhan, akses air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) di Kota Bandung saat ini masih sangat terbatas. Dari sekitar 500.000 rumah, hanya 177.000 yang terdaftar sebagai pelanggan perusahaan daerah air minum (PDAM).
Meski begitu, belum semuanya dapat menikmati layanan sanitasi yang aman, sehingga berpengaruh terhadap faktor kesehatan hingga ekonomi. “AMPL kita masih di bawah 30%, ini berdampak langsung ke stunting, gini rasio, bahkan daya beli,” katanya.
Farhan mengatakan, saat ini, terdapat 11 kelurahan yang memiliki indeks risiko sanitasi sangat tinggi dan 16 kelurahan dengan indeks risiko sanitasi sedang. Indeks risiko sanitasi tinggi menunjukkan suatu area memiliki risiko kesehatan yang signifikan terhadap sanitasi.
Pada 2030, dia menargetkan 43,34% rumah tangga di Kota Bandung memiliki akses sanitasi aman. Dia juga menargetkan 100% rumah tangga tanpa BABS (buang air besar sembarangan), dan 100% layanan penuh pengumpulan sampah.
Saat ini, kata Farhan, hanya sepertiga dari total sampah di Bandung yang bisa dikelola. Dia menekankan, program Kang Pisman (kurangi, pisahkan, dan manfaatkan sampah) harus digenjot untuk mengatasi masalah sampah sekaligus untuk penyehatan lingkungan dan air tanah.
Farhan mendorong integrasi program Buruan SAE untuk penataan lingkungan kumuh dan peningkatan ketahanan pangan keluarga.
Sosialisasi
Terpisah, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kertasari atau Bandung Timur saat ini mulai memasuki tahap konstruksi. Beriringan dengan itu, sosialisasi terus dilakukan kepada para pemangku kepentingan, termasuk petani.
Baca juga : Pertanian Jadi Gaya Hidup Baru di Kota Bandung? Begini Strategi Pemerintahnya!
Sekretaris Perumda Air Minum Tirta Raharja Kabupaten Bandung, Toni S Rezanaser, Selasa (24/6/2025) mengatakan, jumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirta Raharja Kabupaten Bandung per Mei 2025 sebanyak 119.208 sambungan rumah. Angka tersebut terbilang masih rendah ketimbang jumlah penduduk di Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat, atau masih sekitar 16% cakupan pelayanan.
“Menyikapi hal itu, Pemkab Bandung melalui Perumda Air Minum Tirta Raharja mengembangkan SPAM Bandung wilayah timur. Infrastruktur itu untuk meningkatkan cakupan pelayanan air bersih masyarakat Kabupaten Bandung, terutama di 8 kecamatan, Ciparay, Majalaya, Solokanjeruk, Rancaekek, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Cikancung. SPAM tersebut memungkinkan penambahan sekitar 45.000 sambungan rumah tangga secara bertahap hingga 2029,” ucap Toni.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

