sekitarbandungcom – Apartemen Ayam-Maggot ITB menjadi inovasi pengolahan sampah organik yang diterapkan di RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Fasilitas ini dirancang untuk membantu warga mengelola sampah dapur dari sumbernya sekaligus memanfaatkan hasil pengolahan sebagai bagian dari sistem pangan.
ITB meresmikan fasilitas tersebut pada Rabu, 29 Juli 2026. Berdasarkan keterangan ITB, Apartemen Ayam-Maggot mampu mengolah hingga 200–250 kilogram sampah organik dapur setiap hari. Konsep ini memadukan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan peternakan ayam dalam struktur vertikal.
Apartemen Ayam-Maggot ITB Hemat Lahan
Apartemen Ayam-Maggot ITB digagas oleh Dr. rer. nat. Linus Ampang Pasasa, M.S., dosen ITB. Fasilitas yang diterapkan di Tamansari dirancang berbentuk struktur vertikal empat tingkat dengan ukuran sekitar 1 x 6 meter dan tinggi 2,5 meter.
Rancangan tersebut dibuat untuk menjawab keterbatasan lahan di kawasan perkotaan. Di dalamnya terdapat delapan biopond maggot yang dirancang untuk mengolah sampah organik dapur hingga 200–250 kilogram per hari.
Sistem tersebut mengintegrasikan dua kegiatan biologis dalam satu fasilitas. Sampah organik dapur yang sudah dipilah warga dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Setelah tumbuh, maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan bagi ayam yang dipelihara pada fasilitas tersebut.
Menurut ITB, pendekatan itu membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pembuangan. Material organik yang sebelumnya menjadi limbah diarahkan kembali menjadi sumber daya dalam rangkaian pengolahan yang terintegrasi.
Selain di RW 11, konsep Apartemen Ayam-Maggot juga diterapkan di RW 09 dan RW 15, Kelurahan Tamansari. ITB menyebut fasilitas di Tamansari telah berjalan sekitar tiga pekan ketika penjelasan program tersebut diterbitkan pada Agustus 2026.
Baca juga:Farhan Cari Dirut Baru Perumda Pasar Juara, Sosok “Wanian” Jadi Syarat Utama
Apartemen Ayam-Maggot ITB Dorong Ekonomi Sirkular
Apartemen Ayam-Maggot ITB tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah. Sistem tersebut juga dirancang menghasilkan manfaat lanjutan bagi masyarakat melalui pemanfaatan hasil peternakan.
Maggot dan sisa makanan menjadi bagian dari sumber pakan untuk puluhan ekor ayam di fasilitas tersebut. Hasil peternakan berupa telur kemudian direncanakan untuk didistribusikan kembali kepada masyarakat.
ITB menyebut telur tersebut dapat mendukung kebutuhan pangan warga, termasuk sebagai tambahan menu bergizi bagi ibu hamil serta program penanganan stunting melalui Kelompok Swadaya Masyarakat. Rencana itu menunjukkan keterkaitan antara pengelolaan sampah, ketahanan pangan, dan pemberdayaan komunitas.
Pengelolaan dari tingkat rumah tangga menjadi bagian penting dalam konsep tersebut. Warga terlebih dahulu memilah sampah organik dapur sebelum memasukkannya ke dalam sistem. Dengan cara itu, sampah yang dihasilkan di lingkungan sekitar dapat ditangani lebih dekat dengan sumbernya.
Pendekatan serupa sebelumnya dikembangkan ITB di RW 02, Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung. Program tersebut memadukan maggot BSF, bank sampah, dan ayam petelur sebagai model pengolahan sampah organik terpadu.
Baca juga:Penyempitan Jalan Djunjunan, Pekerjaan Trotoar 1.600 Meter Berlangsung hingga Desember
Di Pasirlayung, ITB menjelaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah diarahkan dari hulu, terutama tingkat rumah tangga. Sampah organik diolah menjadi sumber daya, sedangkan maggot yang tumbuh dapat digunakan kembali sebagai pakan ayam dan ikan.
Melalui Apartemen Ayam-Maggot, ITB menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik dapat dirancang menyesuaikan kondisi perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Model vertikal memungkinkan kegiatan pengolahan sampah dan peternakan ditempatkan dalam ruang yang relatif terbatas.
Program di Tamansari juga membuka peluang penerapan model serupa di lokasi lain. ITB berharap pengelolaan berbasis komunitas tersebut dapat direplikasi secara lebih luas untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.
Inovasi ini menempatkan pemilahan sampah sebagai langkah awal yang penting. Dengan dukungan warga, sampah organik dapur dapat masuk ke sistem pengolahan, kemudian menghasilkan maggot dan telur sebagai keluaran yang memiliki manfaat lanjutan.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan potensi sampah organik secara lebih produktif dan berkelanjutan di wilayah perkotaan.
Bagi kawasan perkotaan, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan sampah dapat dilakukan sejak tingkat lingkungan. Apartemen Ayam-Maggot menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang menggabungkan pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

