Sekitarbandung.com – Siapa yang pernah ke Kota Solo pasti tahu Jalan Slamet Riyadi. Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa pemilik nama jalan tersebut adalah pahlawan militer jenius yang gugur di usia yang sangat muda.
Lahir di Solo, Ignatius Slamet Riyadi sudah memimpin pasukan besar saat usianya baru menginjak 22 tahun. Pada usia tersebut, ia memimpin Serangan Umum 4 Hari di Solo (1949) dan berhasil membuat pasukan elite Belanda (Baret Hijau/KST) kocar-kacir.
Kecerdasannya membuat pemerintah memberinya tugas berat. Pada tahun 1950, pecah pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon.
Pemberontak RMS ini bukan sembarangan. Mereka adalah mantan pasukan elit KNIL didikan Belanda yang sangat terlatih, menguasai medan, dan memiliki penembak jitu yang mematikan, sehingga Letkol Slamet Riyadi dikirim untuk menumpas mereka.
Pertempuran di Ambon berlangsung sangat brutal. Pasukan TNI banyak berguguran karena taktik hit and run serta tembakan jitu dari pasukan RMS, sehingga di tengah pertempuran tersebut Slamet Riyadi berdiskusi dengan Kolonel A.E. Kawilarang.
Mereka menyadari satu hal, yaitu TNI membutuhkan pasukan khusus yang memiliki kemampuan setara bahkan lebih hebat dari musuh untuk memenangkan perang semacam ini.
Nahas, sebelum ide pembentukan pasukan khusus itu terwujud, tragedi terjadi. Pada 4 November 1950, saat sedang bergerak di depan Benteng Victoria, Ambon, sebuah peluru dari sniper musuh menembus tubuh Slamet Riyadi.
Sang komandan muda itu pun roboh bersimbah darah. Slamet Riyadi gugur di usia 23 tahun dan sesuai wasiatnya ia dimakamkan di Ambon, tempat ia memberikan napas terakhirnya bagi Republik Indonesia.
Namun, visinya tidak ikut terkubur. Ide untuk membentuk unit pemukul elit tersebut kemudian diwujudkan oleh Kolonel Kawilarang menjadi Kesko TT, yang menjadi cikal bakal Kopassus yang dikenal saat ini.
Di balik kebanggaan Baret Merah yang disegani dunia, terdapat keberanian seorang pemuda berusia 23 tahun yang tidak sempat melihat idenya terwujud.
Oleh karena itu, bagi siapa pun yang sedang nongkrong atau melintas di Jalan Slamet Riyadi malam ini, ingatlah satu hal bahwa nama jalan tersebut bukan sekadar alamat, tetapi penghormatan bagi seorang pemuda yang gugur demi keutuhan Indonesia.

