sekitarbandung.com – Kebun Teh Pangalengan kembali menjadi sorotan setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan komitmen untuk menindak dugaan pengrusakan lahan yang berpotensi mengalihkan fungsi perkebunan tersebut. Kawasan hulu Bandung ini dikenal sebagai zona penting penyangga ekologis, sehingga setiap perubahan tata guna lahan dikhawatirkan memengaruhi kelestarian lingkungan.
Gubernur Jabar Angkat Suara soal Kebun Teh Pangalengan
Dedi Mulyadi menerima laporan adanya aktivitas yang diduga dilakukan secara sistematis untuk merusak dan mengubah fungsi kebun teh Pangalengan menjadi komoditas lain. Ia menegaskan bahwa aturan tertulis jelas melarang tindakan tersebut karena berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan hulu.
“Siapa pun yang terbukti terlibat akan diproses sesuai hukum. Kami meminta Bupati Bandung dan Polda Jabar ikut melakukan penindakan,” ujarnya.
Baca Juga : Aturan Jam Operasional PKL Kiaracondong – Pemkot Bandung Terapkan Kesepakatan Baru
Sejarah Panjang Kebun Teh Pangalengan
Kawasan kebun teh Pangalengan telah ada sejak masa pra-proklamasi. Pembentukannya bukan hanya untuk kebutuhan ekonomi, tetapi sebagai bagian dari perencanaan konservasi hulu Bandung. Ribuan hektare tanaman teh ini berfungsi sebagai penahan erosi, penyimpan air tanah, dan pelindung wilayah hilir dari potensi banjir bandang.
Literatur ilmiah dari berbagai penelitian agronomi juga menegaskan bahwa struktur akar tanaman teh mampu memperkuat tanah dan membantu memulihkan daerah resapan air. Karena itu, perubahan fungsi lahan dapat mengurangi kemampuan alam menjaga kestabilan daerah aliran sungai.
Risiko Lingkungan Jika Alih Fungsi Terjadi
Alih fungsi kebun teh Pangalengan berpotensi menimbulkan beberapa masalah lingkungan, antara lain:
-
Penurunan kualitas resapan air, yang berimbas pada berkurangnya ketersediaan air bersih di wilayah hilir.
-
Peningkatan erosi lahan, terutama pada musim hujan.
-
Risiko banjir bandang, karena hilangnya vegetasi yang berfungsi mengatur aliran air.
-
Gangguan ekosistem lokal, termasuk menurunnya keanekaragaman hayati.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah provinsi menegaskan perlunya pelestarian dan mengawasi pemanfaatan kawasan secara ketat.
Upaya Penegakan dan Pengawasan Pemerintah
Pemprov Jabar menyatakan akan meningkatkan patroli dan pemantauan lapangan pada area kebun teh Pangalengan. Koordinasi dengan Pemkab Bandung, kepolisian, hingga lembaga ahli lingkungan akan diperkuat untuk memastikan tidak terjadi aktivitas ilegal.
Dedi Mulyadi juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sekitar. Menurutnya, warga lokal memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian kawasan hulu. Edukasi dan sosialisasi akan ditingkatkan agar masyarakat dapat melapor jika menemukan indikasi pengrusakan.
Baca Juga: Kereta Kilat Padjajaran: Rencana Transportasi Cepat Jakarta–Bandung–Priangan Timur
Peran Kebun Teh sebagai Penyangga Hulu Bandung
Tanaman teh dikenal memiliki sistem perakaran rapat sehingga mampu memperbaiki struktur tanah. Para peneliti lingkungan menyebut bahwa kebun teh Pangalengan merupakan salah satu elemen paling vital dalam mempertahankan kualitas lingkungan Bandung Raya.
Dengan berada di hulu, kebun teh menjadi garis pertahanan pertama yang menahan curah hujan tinggi. Jika kawasan ini rusak, dampaknya segera terasa di daerah rendah seperti Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, dan wilayah lain yang selama ini rawan banjir.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

