Sekitarbandung.com – Pada kenyataannya, organ yang paling mendapatkan manfaat saat lari bukanlah kaki maupun paru-paru, melainkan otak. Mengapa demikian?
Karena olahraga kardio dengan intensitas sedang dapat membantu melancarkan aliran darah. Hasilnya, pasokan oksigen mengalir lebih optimal ke pusat berpikir di otak.
Pupuk Premium
Saat darah mengalir lebih deras, otak secara otomatis merilis protein khusus yang bernama BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor).
Para ilmuwan menyebutnya sebagai “pupuk premium” yang bertugas menjaga sel-sel otak lama tetap sehat sekaligus memicu pertumbuhan sel saraf baru (neurogenesis) di area memori.
Bahkan, ada temuan neurosains yang menarik. Ternyata, satu sesi olahraga kardio dapat membuat kemampuan kognitif kita bekerja lebih optimal selama 24 jam ke depan. Namun, bukan berarti seseorang mendadak menjadi jenius tanpa belajar.
Artinya, dalam kurun waktu 24 jam tersebut, otak berada dalam kondisi yang lebih prima untuk fokus, berpikir tajam, dan menyerap informasi baru dengan lebih cepat.
Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Olahraga Bikin Candu, Ada Efek “Ganja Alami”!
Setelah Lari Badan Lemas
Jika setelah lari badan terasa lemas, kemungkinan dosis larinya tidak tepat. Misalnya, berlari terlalu keras atau melakukan sprint hingga kehabisan napas.
Hal tersebut dapat membuat tubuh mengalihkan lebih banyak energi untuk proses pemulihan otot yang kelelahan.
Kuncinya terletak pada durasi dan intensitas. Cukup lakukan lari santai (jogging) selama 30 menit, di mana kita masih bisa berlari sambil mengobrol tanpa terengah-engah.
Kondisi tersebut merupakan sweet spot yang dinilai ideal untuk merangsang keluarnya BDNF tanpa membuat tubuh kelelahan berlebihan.
Lari Jadi Solusi
Saat sedang stuck bekerja, pusing belajar, atau buntu mencari ide kreatif, jangan hanya rebahan sambil scrolling media sosial.
Hal tersebut justru dapat membuat otak semakin lelah karena terus menerima dan menyaring informasi secara acak.
Ikat tali sepatu, keluar rumah, lakukan lari santai selama 30 menit, lalu rasakan sendiri bagaimana proses berpikir bisa terasa lebih jernih dan fokus.
Baca Juga: Sejarah Jarak Lari Marathon 42,195 Km, Diciptakan agar Keluarga Kerajaan Senang

