sekitarbandung.com – Pasar Baru Bandung wisata belanja sudah lama dikenal sebagai ikon Kota Kembang yang selalu menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Namun belakangan, denyut perdagangan di pusat perbelanjaan legendaris ini mulai melemah seiring turunnya jumlah pengunjung.
Menurut catatan Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B), tingkat kunjungan merosot hingga 70 persen. Penyebabnya beragam, mulai dari melemahnya daya beli masyarakat, persaingan ketat dengan belanja online, hingga dampak kondisi ekonomi nasional.
Pasar Baru Bukan Sekadar Tempat Belanja
Ketua HP2B, Iwan Suhermawan, menegaskan Pasar Baru punya karakter unik. Sekitar 80 persen pengunjungnya berasal dari luar Bandung, termasuk wisatawan Malaysia dan Singapura. Mereka datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga mencari pengalaman berbeda: tawar-menawar langsung, melihat kualitas barang di tempat, hingga merasakan suasana khas pasar tradisional-modern.
“Pasar Baru itu destinasi wisata belanja. Orang datang bukan hanya membeli, tapi menikmati pengalaman,” ujar Iwan.
Untuk mengenal lebih jauh potensi pariwisata belanja, pembaca bisa membaca juga laporan resmi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Tantangan Wisata Belanja Bandung
Selain faktor daya beli, akses transportasi juga menjadi hambatan. Sejak penerbangan internasional di Bandara Husein Sastranegara berhenti, wisatawan dari Malaysia dan Singapura harus transit lebih dulu di Jakarta. Kondisi ini membuat kunjungan turun drastis.
Menurut Iwan, solusi yang paling mendesak adalah reaktivasi Bandara Husein Sastranegara. Jika rute internasional kembali dibuka, peluang menarik wisatawan asing akan lebih besar.
“Kami sangat menunggu bandara aktif lagi. Itu bisa jadi napas baru bagi Pasar Baru dan pariwisata Bandung,” jelasnya.
Kondisi Terkini Pedagang Pasar Baru
Meski jumlah pengunjung berkurang, tingkat keterisian kios Pasar Baru relatif lebih baik dibanding pusat perbelanjaan lain. Dari total 4.200 kios, sekitar 65 persen masih terisi. Angka ini lebih tinggi dibanding ITC (15 persen), Kosambi (10 persen), bahkan Tanah Abang Jakarta (40 persen).
Namun, okupansi ini tidak sejalan dengan omzet pedagang. Bahkan saat libur panjang yang biasanya penuh sesak, kondisi kini jauh berbeda. Banyak pedagang mengaku kesulitan membayar karyawan karena penjualan yang merosot.
Baca Juga: RW Kawasan Bebas Sampah Bandung Jadi Garda Depan Program, Dapat Dana Rp200 Juta
Harapan Pedagang dan Potensi Ekonomi Kota
Para pedagang menilai branding wisata belanja harus diperkuat kembali. Pasar Baru bukan hanya menopang ekonomi ribuan pedagang, tetapi juga menggerakkan sektor lain: hotel, transportasi, kuliner, hingga UMKM lokal di Bandung.
“Kalau Pasar Baru kembali ramai, dampaknya akan terasa di banyak sektor. Wisata belanja harus dijadikan strategi utama untuk menghidupkan ekonomi kota,” kata Iwan.
Selain perbaikan akses transportasi, diperlukan promosi terpadu yang menonjolkan keunikan Pasar Baru sebagai pusat belanja bersejarah sekaligus modern.
Pasar Baru Bandung tetap menyimpan potensi besar sebagai tujuan wisata belanja unggulan. Meski menghadapi tantangan berat, harapan pedagang masih tinggi bahwa dengan dukungan pemerintah dan pembukaan kembali akses internasional, Pasar Baru bisa kembali menjadi ikon belanja favorit wisatawan mancanegara.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

