Sekitarbandung.com – Raden Machjar Angga Koesoemadinata merupakan seorang seniman, pengajar musik, dan musikolog Sunda.
Saat berusia 21 tahun, ia menciptakan notasi nada Sunda da mi na ti la serta menemukan sistem 17 tangga nada Sunda.
Atas temuannya yang mengguncang dunia musik tersebut, ia dianggap sebagai musikolog pertama di tatar Jawa.
Titik Balik
Machjar lahir di Sumedang pada tanggal 7 Desember 1902. Ia diketahui tumbuh dalam lingkungan akademik dan seni.
Perkenalannya dengan metode sains, ilmu fisika, dan ilmu musik Barat terjadi saat menempuh pendidikan di sekolah guru (Kweekschool dan Hogere Kweekschool).
Hal inilah yang menjadi titik awal dirinya dalam melakukan penelitian pengukuran interval dan frekuensi suara dari perangkat gamelan.
Pada tahun 1923, Machjar menciptakan serat kanayagan (notasi tangga nada Sunda) da mi na ti la dan menulis buku teori seni suara Sunda berjudul Elmuning Kawih Sunda.
Dedikasi di Dunia Pendidikan Seni
Tahun 1933
Membentuk pendidikan seni suara pada seluruh sekolah pribumi di Jawa Barat dengan sistem da mi na ti la.
Tahun 1942-1945
Mengajar di sekolah guru.
Tahun 1945-1947
Menjadi guru ilmu alam, sejarah, dan bahasa Inggris di SMP/SMA Bandung.
Tahun 1947-1950
Menjabat sebagai Kepala Kantor Pendidikan (Koordinator Pendidikan Rendah) di Sumedang.
Tahun 1950-1952
Ditugaskan untuk mengembangkan pendidikan seni suara pada sekolah-sekolah rendah dan menengah di Jawa Barat yang berpusat di Bandung.
Tahun 1953-1959
Menjadi dosen luar biasa yang mengajar ilmu akustik dan gamelan di Konservatori Karawitan Surakarta.
Tahun 1958-1960
Menjabat sebagai Direktur Utama Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung.
Baca Juga: Loetoeng Kasaroeng, Film Pertama Pribumi yang Lahir di Bandung
Penemuan Monumental
Tahun 1923
Menciptakan serat kanayagan (notasi tangga nada Sunda) da mi na ti la.
Tahun 1926
Menulis sandiwara dan memelopori Gending Karesmen (opera Sunda).
Tahun 1937-1938
Meneliti dan menciptakan gamelan eksperimental dengan 9 tangga nada untuk pelog dan gamelan 10 tangga nada untuk salendro.
Tahun 1950
Melakukan penelitian teori 17 tangga nada Sunda, yang mana satu oktaf terdiri dari 17 interval yang sama sebesar 70 10/17 cents.
Tahun 1969
Menciptakan Gamelan “Ki Pembayun” dengan 17 tangga nada. Gamelan tersebut menjadi salah satu yang terbesar yang pernah ada di Indonesia. Bahkan, ia juga membuat gitar akustik 17 tangga nada.
Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat melalui unggahan akun Instagram @humas_jabar pada Minggu (31/5/2026), mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Raden Machjar Angga Koesoemadinata atas dedikasinya yang luar biasa.
“Hatur nuhun, Pak Raden Machjar Angga Koesoemadinata atas dedikasi dan penemuan-penemuan jeniusnya yang mengubah arah belantika musik Indonesia khususnya Sunda,” tulisnya dalam unggahan.
Baca Juga: Gagak Winangsih: Simbol Ketangguhan dan Keberanian Warga Indramayu

