Sampah Bandung Menumpuk Lagi, Wali Kota Farhan Pantau Langsung Pengelolaan di Tiap Kelurahan

sekitarbandung.com – Sampah Bandung menumpuk lagi di sejumlah titik kota, termasuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Ciwastra. Kondisi ini dipicu perubahan sistem pembuangan ke Tempat

Aracely Azwa

Sampah Bandung Menumpuk Lagi, Wali Kota Farhan Pantau Langsung Pengelolaan di Tiap Kelurahan

sekitarbandung.com – Sampah Bandung menumpuk lagi di sejumlah titik kota, termasuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Ciwastra. Kondisi ini dipicu perubahan sistem pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang kini menggunakan sistem tonase, menggantikan sistem ritase sebelumnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah setinggi hampir dua meter meluber hingga ke jalan dan menimbulkan bau tidak sedap. Situasi ini membuat warga dan pedagang sekitar terganggu, sementara petugas kebersihan masih terus berupaya melakukan pengangkutan secara bergiliran.

Dampak Perubahan Sistem terhadap Sampah Bandung yang Menumpuk

Menurut Elvian Darwis, pengawas TPS Ciwastra, kebijakan baru ini berdampak langsung pada volume pembuangan ke TPA Sarimukti. Ia menjelaskan bahwa sistem tonase membuat batas pembuangan menjadi tidak jelas dan berpotensi menghambat distribusi sampah dari TPS.

“Kalau pakai tonase itu gak tentu, kadang cepat penuh. Kalau ritase kan jelas, satu kali jalan bisa diatur. Sekarang jatah buangnya jadi berkurang,” ujar Elvian di lokasi, Jumat (10/10/2025).

Sebelumnya, volume sampah di TPS Ciwastra rata-rata tidak lebih dari 200 meter kubik per hari. Namun sejak kebijakan baru diterapkan, jumlah itu meningkat drastis, bahkan mencapai dua kali lipat.

Ia menambahkan, pihaknya kini tengah berupaya mencari solusi alternatif, termasuk mendorong pengolahan sampah langsung di tingkat lingkungan sebelum dibawa ke TPS.

Baca Juga: The Papandayan Jazz Fest 2025 Rayakan Satu Dekade Jazz Bandung dalam Keberagaman

Wali Kota Farhan Turun Langsung Atasi Sampah Bandung Menumpuk

Menanggapi persoalan ini, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui adanya penurunan kapasitas pembuangan ke TPA Sarimukti. Farhan pun menegaskan bahwa Pemkot Bandung tidak tinggal diam, melainkan segera melakukan langkah-langkah penanganan di setiap wilayah.

“Kami sadar kondisi ini tidak ideal. Karena itu, saya memutuskan untuk berkantor di tiap kelurahan, agar bisa memantau langsung proses pemilahan dan pengelolaan sampah di lapangan,” ujar Farhan.

Ia menyebutkan, upaya ini menjadi bagian dari strategi percepatan penanganan sampah Bandung menumpuk agar tidak terus berlarut. Program tersebut melibatkan kolaborasi antara kelurahan, RW, hingga masyarakat untuk memperkuat sistem pengelolaan mandiri.

Langkah Pemkot Bandung Dorong Pengelolaan di Tiap Kelurahan

Farhan mengatakan, pendekatan baru yang diterapkan Pemkot Bandung adalah dengan memperkuat tata kelola sampah di level komunitas.
Setiap kelurahan diwajibkan memiliki satu titik pantauan pengelolaan sampah organik yang bisa menjadi model bagi wilayah lain.

“Kami ingin ada perubahan nyata. Pengelolaan di tingkat RW harus jadi kunci agar volume sampah yang dikirim ke TPA bisa ditekan,” katanya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga mulai memperluas edukasi pemilahan sampah rumah tangga, penggunaan komposter, serta kerja sama dengan bank sampah yang kini jumlahnya terus bertambah di berbagai kecamatan.

Dukungan dan Tantangan Pengelolaan Sampah di Kota Bandung

Kendati sudah banyak inovasi dilakukan, tantangan tetap ada, terutama dari sisi kebiasaan warga dan keterbatasan fasilitas. Farhan menekankan bahwa keberhasilan program pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.

“Ini soal perilaku bersama. Pemerintah memfasilitasi, tapi warga harus ikut memilah, mengurangi, dan mengolah. Kalau tidak dimulai dari rumah, penumpukan tetap akan terjadi,” jelasnya.

Pemkot Bandung juga berencana memperluas kerja sama dengan sektor swasta dan komunitas untuk pengolahan sampah anorganik melalui sistem daur ulang dan ekonomi sirkular.

Upaya Kolaboratif dan Solusi Berkelanjutan

Ke depan, Pemkot menargetkan agar setiap kelurahan memiliki TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang mampu mengolah minimal 30 persen sampah sebelum dikirim ke TPA.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar krisis sampah Bandung menumpuk tidak terus berulang.

Selain penguatan di hulu, Farhan juga menyoroti pentingnya kebijakan di tingkat provinsi agar distribusi pembuangan sampah ke TPA Sarimukti lebih efisien dan berkeadilan antarwilayah.

Permasalahan sampah Bandung menumpuk memang bukan hal baru. Namun, langkah Wali Kota Farhan yang turun langsung ke lapangan menunjukkan keseriusan Pemkot dalam menata sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan dan berbasis partisipasi warga.

Untuk informasi dan program terbaru tentang kebersihan dan pengelolaan sampah di Kota Bandung, masyarakat dapat mengunjungi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung atau mengikuti inisiatif lingkungan melalui Jabar Bersih Sampah.

Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar