sekitarbandungcom – Kondisi sampah di kawasan Pasupati kembali menjadi perhatian setelah dokumentasi yang beredar memperlihatkan area di bawah flyover. Persoalan kebersihan di sekitar Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja tersebut sebelumnya juga pernah tercatat dalam sejumlah peristiwa keramaian di Kota Bandung.
Unggahan Instagram Hermansuryatman digunakan sebagai sumber visual mengenai kondisi kawasan. Namun, waktu pengambilan gambar dan jumlah sampah dalam unggahan tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari dokumentasi itu. Karena itu, informasi visual perlu dibaca bersama data dan keterangan dari sumber lain yang dapat diverifikasi.
Sampah Pasupati Pernah Jadi Perhatian dalam Keramaian
Catatan mengenai sampah Pasupati bukan hal yang sepenuhnya baru. PRFM pada 21 Maret 2026 memuat dokumentasi penumpukan sampah di kolong Flyover Pasupati. Dalam laporan tersebut, kawasan Pasupati disebut sebagai salah satu titik dengan produksi sampah tinggi ketika perayaan malam Tahun Baru 2026 berlangsung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan yang menjadi jalur aktivitas masyarakat dan kendaraan dapat menghadapi tantangan kebersihan ketika terjadi peningkatan keramaian. Sampah yang tertinggal kemudian membutuhkan penanganan petugas agar tidak mengganggu kenyamanan maupun kondisi lingkungan sekitar.
Persoalan serupa kembali tercatat setelah konvoi kemenangan Persib pada 24 Mei 2026. Portal Jabar melaporkan Jembatan Layang Pasupati termasuk salah satu lokasi yang menjadi titik persoalan sampah setelah keramaian tersebut.
DLH Kota Bandung melakukan penyisiran dan pembersihan di enam titik keramaian. Penanganan dilakukan setelah massa berkumpul dan bergerak melalui sejumlah jalur kota. Volume sampah dari keseluruhan kegiatan diperkirakan mencapai puluhan ton.
Baca juga:KDM Dorong Efisiensi, 6 Kelompok OPD Jabar Berpotensi Digabung
Sampah Pasupati Mendorong Perhatian pada Kebersihan
Pemberitaan Pikiran Rakyat turut menguatkan bahwa Jembatan Layang Pasupati termasuk jalur yang mengalami persoalan sampah setelah rangkaian konvoi. Kepala DLH Kota Bandung Darto menjelaskan kondisi serupa ditemukan di sejumlah lokasi yang dilalui masyarakat dalam perayaan tersebut.
Keterangan itu memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah menjadi bagian penting ketika ruang publik digunakan dalam skala besar. Penanganan setelah keramaian dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi kawasan agar kembali dapat digunakan secara nyaman oleh masyarakat.
Di sisi lain, Pemkot Bandung pada 2026 mengarahkan pengelolaan sampah agar semakin kuat dari tingkat hulu. Pendekatan tersebut mencakup pengelolaan sampah berbasis masyarakat serta penguatan petugas kebersihan.
Upaya dari tingkat hulu menjadi penting karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan pembersihan setelah menumpuk. Pengurangan dan pengelolaan sejak sumbernya dapat membantu menekan sampah yang berakhir di ruang publik.
Baca juga:Teras Cihampelas Segera Ditata Ulang, Wajah Baru Ditargetkan Rampung Oktober 2026
Kondisi Sampah Pasupati Perlu Dibaca Secara Proporsional
Meski dokumentasi di media sosial dapat menjadi perhatian awal, informasi mengenai kondisi sampah Pasupati tetap perlu diverifikasi dengan hati-hati. Tidak semua foto atau video yang beredar langsung menjelaskan kapan rekaman dibuat, berapa banyak sampah yang terlihat, maupun langkah yang telah dilakukan pemerintah.
Karena itu, unggahan Hermansuryatman lebih tepat digunakan sebagai sumber visual. Sementara itu, data tentang volume, waktu kejadian, lokasi penanganan, dan tindakan petugas sebaiknya merujuk pada keterangan resmi atau pemberitaan media kredibel.
Kondisi tersebut juga penting agar pemberitaan tidak mencampurkan peristiwa yang berbeda. Penumpukan sampah saat malam Tahun Baru dan setelah konvoi Persib merupakan kejadian pada waktu tertentu. Keduanya dapat menjadi konteks mengenai persoalan kebersihan Pasupati, tetapi tidak otomatis membuktikan kondisi kawasan pada September 2026.
Dengan pendekatan tersebut, persoalan kebersihan di bawah Flyover Pasupati dapat disampaikan secara informatif tanpa membuat kesimpulan yang melampaui data. Masyarakat juga dapat melihat bahwa kebersihan ruang publik membutuhkan peran bersama, mulai dari perilaku membuang sampah hingga dukungan pengelolaan oleh pemerintah.
Perhatian terhadap Pasupati pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kawasan publik yang ramai membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang konsisten. Dokumentasi visual dapat mendorong perhatian masyarakat, sedangkan data terverifikasi diperlukan untuk memastikan kondisi dan penanganan dapat dipahami secara tepat.
Bagi pengguna kawasan, perhatian terhadap kebersihan juga berkaitan dengan kenyamanan perjalanan, keamanan lingkungan, dan kualitas ruang publik yang digunakan bersama setiap hari. Terutama ketika aktivitas masyarakat meningkat.
Sumber: hermansuryatman

