Sekitarbandung.com – Sebelum era tahun 1980-an, salah satu taktik lari yang dianggap paling diharamkan di dunia adalah memiliki teman yang terlalu suportif.
Sebelum era pacer populer, strategi dalam balapan lari jarak jauh memang sesederhana itu.
Tontonan yang kurang gereget membuat perlombaan terasa “hambar”. Dari sinilah kebutuhan akan penentu ritme kecepatan (pacer) mulai muncul.
Masalahnya, federasi atletik dunia pada era tahun 1950-an sangat saklek. Mereka melarang keras peserta dengan sengaja membawa pelari lain untuk dijadikan pembuka jalan.
Aturan Ini Memicu Siasat
Pada 6 Mei 1954 di Inggris, pelari bernama Roger Bannister memiliki ambisi besar untuk memecahkan rekor lari sejauh 1 mil (1,6 km) di bawah waktu 4 menit.
Bannister kemudian memanfaatkan celah aturan dengan mengajak dua temannya untuk mendaftar sebagai peserta resmi dalam perlombaan.
Begitu pistol start berbunyi, misi rahasia pun langsung dijalankan. Kedua teman Roger berlari sekuat tenaga secara bergantian di depan dirinya.
Hal tersebut dilakukan untuk membuka jalan, memotong angin, dan menjaga ritme kecepatan agar tidak menurun. Saat mendekati garis finis, keduanya sengaja memperlambat tempo larinya.
Siasat tersebut berhasil tanpa melanggar aturan perlombaan. Bannister akhirnya finis dengan catatan waktu 3 menit 59,4 detik.
Baca Juga: Cliff Young, Si Petani Lugu yang Ikut Lomba Lari tetapi Justru Cetak Rekor
Menular ke Lomba Jarak Jauh
Dari perlombaan lari pendek, taktik ini kemudian menular ke lomba lari jarak jauh.
Memasuki era tahun 1980-an, penggunaan pelari pembantu resmi dilegalkan. Dari sinilah industri pacer profesional lahir dengan julukan baru, yaitu “Rabbit” atau kelinci.
Julukan tersebut diadopsi dari balapan anjing greyhound, di mana anjing pemburu mengejar boneka kelinci mekanis yang bergerak di depan mereka.
Di lintasan lari, para “Rabbit” dikontrak dan dibayar mahal hanya untuk menjadi pelari pembuka yang memimpin di depan dengan kecepatan ekstrem, lalu langsung mundur (drop out) setelah melewati jarak tertentu.
Pacer Era Modern
Di era modern saat ini, peran pacer telah berkembang menjadi lebih kompleks.
Mereka tidak hanya berperan sebagai tameng pembelah angin, tetapi juga menjadi penentu presisi waktu tempuh yang sangat akurat.
Mereka bertindak sebagai “stopwatch” berjalan yang mendampingi atlet utama. Tugasnya adalah menjaga agar ketukan langkah sang atlet tetap stabil sesuai target waktu yang spesifik, misalnya tepat 2 menit 50 detik per kilometer.
Dengan begitu, energi atlet utama tidak terkuras habis akibat salah mengatur ritme sejak awal perlombaan.
Pacer di Kehidupan Sehari-hari
Peran pacer sebenarnya juga bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Saat sedang bersemangat mengejar mimpi, kita sering kali lupa mengatur ritme. Gas pol di awal, tetapi burnout di tengah jalan.
Nah, di sinilah kita membutuhkan “penjaga ritme” di dunia nyata, seperti mentor atau bahkan sahabat. Mereka tidak jaim untuk mengatakan,
“Woi, pelan-pelan, perjalanan kita masih jauh!”
Baca Juga: Lari Bisa Bikin Otak Encer, Solusi Bagi yang Susah Fokus Saat Beraktivitas

