Jika Valentine Bukan Budaya Kita, Lalu Apa Tradisi Kasih Sayang Warisan Leluhur? Berikut 3 Tradisi Kasih Sayang di Indonesia

BANDUNG – Setiap kali kalender mendekati tanggal 14 Februari, etalase pusat perbelanjaan di Kota Bandung seakan serempak berganti rupa. Warna merah muda dan merah mendominasi,

Redaksi Sekitar Bandung

valentine gift

BANDUNG – Setiap kali kalender mendekati tanggal 14 Februari, etalase pusat perbelanjaan di Kota Bandung seakan serempak berganti rupa. Warna merah muda dan merah mendominasi, dihiasi aneka bentuk hati, cokelat dalam kemasan cantik, dan boneka-boneka lucu. Gempita perayaan Hari Valentine terasa begitu kuat, meresap melalui media sosial hingga ke percakapan sehari-hari. Namun, di balik hingar bingar tersebut, sebuah pertanyaan fundamental kerap bergema di tengah masyarakat: perlukah kita merayakannya?

Pusaran perdebatan tentang Valentine’s Day sebagai produk budaya asing yang tidak sejalan dengan nilai-nilai lokal menjadi sebuah ritual tahunan. Alih-alih larut dalam pro dan kontra yang tak berkesudahan, ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih esensial dan memberdayakan untuk kita jawab. Jika memang perayaan tersebut terasa asing, lantas bagaimana cara leluhur kita di Nusantara mengekspresikan dan merayakan kasih sayang? Ternyata, jawabannya tersimpan dalam khazanah tradisi yang jauh lebih kaya dan mendalam maknanya.

Baca juga – Studi : Remaja Jomblo Lebih Rendah Terkena Depresi Ketimbang Remaja yang Punya Pacar

Kasih Sayang yang Dirangkai dalam Sastra Puitis

pantun valentine

Jauh sebelum kartu ucapan dan pesan singkat digital ada, kata-kata adalah media utama untuk menautkan hati. Masyarakat Melayu, yang pengaruhnya tersebar luas di Nusantara, memiliki tradisi berbalas pantun sebagai sarana adu kecerdasan sekaligus penyampaian perasaan yang elegan. Melalui sampiran dan isi, seorang pemuda bisa menggoda, memuji, atau menyatakan cintanya kepada seorang gadis dengan cara yang sopan dan penuh seni. Praktik serupa juga dapat ditemukan dalam budaya Sunda melalui paparikan atau sisindiran. Dalam tradisi lisan tersebut, kasih sayang tidak diungkapkan secara gamblang dan instan, melainkan dirajut perlahan melalui keindahan bahasa yang penuh kiasan.

 

Simbolisme Mendalam di Balik Benda Pemberian

seserahan, seperti valentine

Jika budaya populer modern identik dengan cokelat dan mawar, tradisi leluhur kita menggunakan benda-benda dengan filosofi yang mengakar kuat. Lihatlah prosesi seserahan atau hantaran dalam lamaran pernikahan di hampir seluruh suku di Indonesia. Setiap barang yang dibawa bukanlah sekadar hadiah, melainkan sebuah pernyataan dan doa. Seperangkat busana melambangkan kesanggupan untuk melindungi dan menafkahi. Buah-buahan segar menjadi simbol harapan akan kesuburan dan kehidupan yang manis. Makanan lengket seperti jenang atau dodol merepresentasikan harapan agar kedua mempelai selalu rekat tak terpisahkan. Setiap benda bercerita, setiap pemberian adalah sebuah komitmen.

 

Ritual Sakral yang Melibatkan Keluarga dan Komunitas

Midodareni, seperti valentine

Berbeda dengan Valentine yang cenderung bersifat personal dan terfokus pada pasangan, tradisi Nusantara seringkali memaknai kasih sayang dalam lingkup yang lebih luas. Dalam budaya Jawa, malam sebelum pernikahan dikenal sebagai Malam Midodareni. Malam tersebut adalah sebuah ritual sakral di mana keluarga calon mempelai wanita menunjukkan restu dan kasih sayangnya. Momen tersebut menjadi ajang bagi kedua keluarga untuk saling mendekatkan diri, membuktikan bahwa sebuah ikatan cinta tidak hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga besar. Kasih sayang dirayakan secara komunal, penuh doa, dan dalam suasana yang khidmat, bukan dalam perayaan sesaat.

Ekspresi cinta dalam budaya kita juga seringkali tidak terucap, melainkan tecermin dalam tindakan pelayanan sehari-hari. Seorang ibu yang tak pernah lelah menyiapkan hidangan untuk keluarganya atau seorang ayah yang bekerja keras memastikan keamanan rumah adalah wujud nyata dari afeksi yang berkelanjutan. Kasih sayang adalah maraton, bukan sprint satu hari.

Fenomena penyerapan budaya global seperti Valentine ini dilihat oleh para ahli sebagai proses yang kompleks, bukan sekadar peniruan. Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Melani Budianta dalam wawancara, menjelaskan bahwa seringkali terjadi proses adaptasi makna “Wacana global itu dialihwahanakan atau disesuaikan dengan konteks lokal. Jadi, sebenarnya wacana global itu tidak pernah utuh sampai di tingkat lokal karena sudah mengalami pembiasan,” ungkapnya dalam sebuah diskusi.

Kutipan tersebut menyiratkan bahwa meskipun simbol-simbol Valentine diadopsi, masyarakat seringkali memberinya makna baru yang sesuai dengan konteks lokal. Namun, hal tersebut tidak seharusnya membuat kita lupa pada kekayaan tradisi yang sudah ada.

Pada akhirnya, menjawab pertanyaan “lalu apa budaya kita?” adalah sebuah ajakan untuk melihat ke dalam. Nusantara tidak miskin tradisi kasih sayang; kita hanya perlu menggali dan mengenalkannya kembali. Mungkin tantangannya bukanlah menolak mentah-mentah budaya populer global, melainkan menjadi lebih proaktif dalam menghidupkan, merayakan, dan mewariskan cara-cara kita sendiri dalam memaknai cinta—dengan lebih puitis, simbolis, dan komunal. Merayakan cinta dengan identitas budaya yang kita miliki sejatinya jauh lebih membanggakan.

Baca juga – Pesona Bunga Tabebuya Mekar Hiasi Jalan Jamika & Peta Bandung, Jadi Daya Tarik Pengendara

Related Post

Tinggalkan komentar