Di tengah dinamika Kota Bandung yang serba cepat, di antara tuntutan pekerjaan dan hiruk pikuk kehidupan urban, ada sebuah krisis senyap yang terjadi di dalam ruang-ruang keluarga fenomena fatherless. Istilah tersebut tidak hanya merujuk pada ketiadaan ayah secara fisik akibat perceraian atau kematian, tetapi juga pada sebuah kondisi yang lebih subtil namun tak kalah merusak, yaitu ketiadaan figur ayah secara emosional dan psikologis.
Banyak anak di kota ini mungkin tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik di rumah, namun “absen” dalam keseharian mereka—terlalu sibuk dengan pekerjaan, enggan terlibat dalam pengasuhan, atau tidak mampu membangun koneksi emosional yang mendalam. Dampaknya sangat nyata dan mengkhawatirkan: dari rendahnya rasa percaya diri anak, masalah perilaku, hingga kesulitan dalam meregulasi emosi.
Kondisi tersebut menjadi sebuah panggilan mendesak, khususnya bagi para ayah di Kota Bandung, untuk merefleksikan kembali dan merebut peran fundamental mereka. Pakar Parenting Nasional, Subchan Daragana, yang akrab disapa Mang Gana, merumuskan ada tiga Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) krusial yang harus dijalankan seorang ayah untuk menyelamatkan generasi dari bahaya fatherless.
Baca juga : Cara Dapat Subsidi Listrik Bandung untuk Pelanggan 450–900 VA, Cek Syaratnya!
1. Peran Krusial Pertama: Loving – Menjadi Sumber Cinta dan Kehangatan Emosional
Tupoksi pertama dan yang paling mendasar adalah “Loving” atau memberikan rasa sayang. Menurut Mang Gana, peran ini seringkali disalahartikan sebatas pemenuhan kebutuhan finansial. Padahal, yang paling dibutuhkan anak dari ayahnya adalah cinta yang termanifestasi dalam tindakan nyata: sebuah pelukan, pujian yang tulus, atau sekadar waktu untuk mendengarkan cerita mereka tanpa distraksi gawai.
Kehadiran ayah sebagai sumber cinta akan membangun fondasi rasa aman dan harga diri yang kokoh pada anak. Ketika seorang anak merasa dicintai dan diterima sepenuhnya oleh ayahnya, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain di masa depan. Sebaliknya, ketiadaan afeksi dari figur ayah dapat menciptakan luka batin yang membekas.
Seorang psikolog anak dari Universitas Indonesia, Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menekankan dampak psikologis dari kehadiran ayah. “Keterlibatan ayah dalam pengasuhan, terutama dalam memberikan dukungan emosional, sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif dan sosial anak. Anak yang memiliki ikatan kuat dengan ayahnya cenderung memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dan lebih tahan terhadap stres,” jelasnya dalam sebuah seminar yang diliput oleh Antara News.
2. Peran Krusial Kedua: Coaching – Menjadi Pendidik dan Pelatih Kehidupan
Tupoksi kedua adalah “Coaching“, yaitu peran ayah sebagai pendidik dan pelatih. Ini adalah peran aktif dalam mentransfer ilmu, nilai-nilai, dan keterampilan hidup kepada anak. Peran ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada ibu atau sekolah. “Sentuhan” seorang ayah dalam mendidik seringkali memiliki karakter yang berbeda dan sama pentingnya.
Menjadi “pelatih” berarti meluangkan waktu untuk membantu anak mengerjakan tugas sekolah, mengajarkan mereka sebuah keahlian baru seperti bersepeda atau memperbaiki sesuatu, memberikan nasihat tentang cara menghadapi perundungan, atau mendiskusikan nilai-nilai penting seperti kejujuran dan kerja keras. Ayah yang baik adalah seorang mentor yang mempersiapkan anaknya untuk menghadapi kerasnya “pertandingan” kehidupan.
Pakar parenting, Dr. Michele Borba, seorang penulis buku laris internasional, menyoroti peran ayah dalam membangun resiliensi. “Ayah seringkali secara alami mendorong anak-anak untuk mengambil risiko yang terukur dan menghadapi tantangan. Cara mereka bermain dan berinteraksi sedikit berbeda dari ibu, dan pendekatan ini sangat penting untuk membangun ketangguhan, kemandirian, dan keberanian pada anak,” tulisnya dalam salah satu artikelnya di Psychology Today.
3. Peran Krusial Ketiga: Role Model – Menjadi Teladan yang Hidup
Inilah tupoksi yang paling berat sekaligus paling berdampak. Ayah adalah “Role Model” atau teladan utama bagi anak-anaknya. Anak-anak, terutama di usia dini, belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar. Seorang ayah bisa menasihati anaknya seribu kali untuk tidak merokok, tetapi jika ia sendiri merokok, maka nasihat tersebut akan menjadi hampa.
Menjadi teladan berarti menunjukkan secara langsung bagaimana cara menjadi pribadi yang baik. Bagaimana seorang ayah memperlakukan istrinya akan menjadi cetak biru bagi anak laki-lakinya tentang cara menghormati perempuan. Bagaimana seorang ayah mengelola amarah dan stres akan menjadi pelajaran bagi anak perempuannya tentang standar seorang pria yang dewasa secara emosional. Integritas, etos kerja, dan cara berinteraksi dengan orang lain adalah “kurikulum” tidak tertulis yang diajarkan ayah setiap hari melalui perilakunya.
Subchan Daragana (Mang Gana) memberikan peringatan keras tentang dampak dari ketiadaan teladan ini. “Jikalau Ayah tidak menghadirkan tupoksi ini di keluarganya, bahaya sekali kita. Jangan sampai yang viral justru ada ayah melakukan tindakan buruk kepada anaknya atau anak muda yang melakukan tindakan kriminal karena tidak punya panutan,” tegas Mang Gana dalam rilis yang diterima sekitarBANDUNGcom.
Menjadi Ayah Hebat, Menyelamatkan Masa Depan Bandung
Pada akhirnya, tiga peran krusial ini—Loving, Coaching, and Role Model—adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan. Panggilan ini ditujukan secara khusus untuk para ayah di Bandung: di tengah kesibukan Anda membangun karier dan kota ini, jangan lupakan pembangunan yang paling fundamental, yaitu membangun karakter generasi penerus di dalam rumah Anda sendiri.
Perang melawan krisis fatherless tidak dimenangkan oleh program pemerintah yang megah, melainkan oleh jutaan tindakan kecil yang konsisten: sebuah pelukan sebelum anak tidur, sebuah obrolan tulus sepulang kerja, dan sebuah contoh nyata dari integritas setiap hari. Dengan menjalankan ketiga peran krusial tersebut, para ayah di Bandung tidak hanya sedang membesarkan anak-anaknya, tetapi juga secara aktif sedang menyelamatkan dan membangun masa depan kota yang lebih kuat dan berkarakter.
Baca juga – Sedih ! Indonesia Menjadi 3 Fatherless Country, Pulanglah Para Ayah

